Penanganan Orang yang Terkena Lupus
Media Utama - 217 view


Tanggal 10 Mei diperingati sebagai Hari Lupus Sedunia. Tanggal ini diumumkan WHO pada 2004 bersamaan dengan Kongres Lupus Internasional ke-7 di New York. Ini sebagaimana mengutip laman Syamsi Dhuha, sebuah yayasan yang peduli terhadap penderita lupus di Indonesia.

Penetapan tersebut menunjukkan perhatian dunia terhadap lupus cukup besar, mengingat lupus adalah penyakit autoimun yang dapat menyebabkan berbagai kerusakan pada jaringan dan organ tubuh, bahkan pada beberapa kasus dapat menyebabkan kematian.

  1. Jerry Nasarudin, Sp.PD dari RSUP Fatmawati Jakarta menyatakan, penyakit lupus merupakan penyakit inflamasi kronik akibat gangguan pada sistem imun tubuh.

“Sistem imun tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari infeksi virus atau bakteri, justru menyerang organ tubuh sendiri,” jelas Jerry.

Lebih dari 5 juta orang di seluruh dunia mengalami penderitaan yang luar biasa karena penyakit lupus, dan setiap tahun terjadi penambahan lebih dari 100 ribu kasus, di mana sebagian besar dialami oleh perempuan usia produktif.

Sementara itu, banyak dokter di seluruh dunia tidak menyadari gejala dan efek dari lupus, sehingga para penyandang lupus mengalami penderitaan bertahun-tahun sebelum mereka didiagnosis lupus dan mendapatkan pengobatan yang tepat.

Situs lupusresearch.org melansir, siapa pun bisa terkena lupus. Perempuan adalah yang terbanyak, perbandingannya adalah 9 dari 10 penderita lupus adalah perempuan.

Hingga saat ini penyebab lupus belum dapat diketahui. Sementara itu, tidak ada sebuah tes yang dapat menentukan apakah seseorang menderita lupus. Perlu dilakukan beberapa tes laboratorium yang dapat membantu dokter mengonfirmasi penyakit ini.

3 faktor risiko

Siapapun dapat menderita lupus. Meski demikian, Jerry menyebutkan 3 faktor risiko seseorang terkena lupus: usia, jenis kelamin, dan ras.

“Penyakit lupus lebih sering menyerang usia dewasa muda (15-40 tahun). Untuk jenis kelamin, wanita lebih sering terkena dibanding pria. Dan ras Asia salah satu ras yang sering terkena penyakit lupus,” tambah dr. Jerry.

Pada dasarnya tidak ada pencegahan pasti penyakit lupus, tapi dengan menghindari risiko dapat mengurangi kejadian penyakit ini. Jerry menyarankan untuk selalu menjaga perilaku hidup sehat dan tidak stres, olahraga teratur, kurangi paparan langsung sinar matahari, tidak merokok, dan nutrisi tercukupi.

Prinsip pengobatan lupus dapat dilakukan dengan mengedukasi kepada penderita tentang penyakit lupus agar penderita memahami penyakitnya.

“Berperilaku hidup sehat dan menghindari faktor risiko seperti rokok dan paparan sinar matahari langsung, mengurangi gejala pada organ yang terkena, mencegah kerusakan lanjut pada organ yang terkena, serta melakukan pengobatan imunosupresan untuk mengontrol sistem imun tubuh,” terang Jerry. [*]

Box

Deteksi Dini Penyakit Lupus

Deteksi dini penyakit Lupus dapat dilakukan dengan SALURI (perikSA LUpus SendirI). dr. Jerry Nasarudin, Sp.PD dari RSUP Fatmawati Jakarta memberikan sebelas pertanyaan untuk mendeteksi dini penyakit lupus.

  1. Apakah persendian sering terasa sakit atau bengkak lebih dari 3 bulan?
  2. Apakah jari tangan atau kaki pucat, kaku, atau tidak nyaman saat dingin?
  3. Apakah menderita sariawan lebih dari dua minggu?
  4. Apakah mengalami kelainan darah seperti anemia, leukosit rendah, atau trombosit rendah?
  5. Pernahkah pada wajah terdapat ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu yang sayapnya melintang dari pipi ke pipi?
  6. Apakah sering demam diatas 38 derajat celsius tanpa sebab yang jelas?
  7. Apakah sering mengalami nyeri dada selama beberapa hari saat menarik napas?
  8. Apakah sering mengalami kelelahan dan sangat lemas, bahkan setelah cukup istirahat?
  9. Apakah mengalami hipersensitivitas terhadap sinar matahari?
  10. Apakah terdapat protein pada pemeriksaan urin?
  11. Pernahkah mengalami serangan kejang?

Bila menjawab “ya” untuk minimal 4 pertanyaan, segera konsultasikan ke dokter spesialis penyakit dalam.

Penulis : Giri Inayah


Index ePaper Download PDF ePaper