Penderita Komorbid pun Bisa
Media Utama - 164 view


Kita sering mengenal istilah komorbid pada penderita COVID-19. Komorbid adalah penyakit kronis yang menyertai pasien. Bentuknya, antara lain, adalah diabetes melitus dan hipertensi atau keadaan-keadaan yang menyertai COVID-19 seperti penyakit paru obstruktif kronis atau asma.

"Komorbid adalah penyakit penyerta atau penyakit kronis yang sudah diderita oleh pasien dan dibawa oleh pasien sebelum kena COVID-19 dan penyakit komorbid ini memiliki efek memperberat perjalanan penyakit COVID-19 itu sendiri," kata dr. Jerry Nasarudin, Sp.PD dari Rumah Sakit Fatmawati saat diwawancara Mediakom pada 25 April 2021.

Menurut Jerry, komorbid atau penyakit penyerta akan memperberat penyakit COVID-19 dan kadang bisa juga saling memberatkan. “Misalnya, pasien diabetes melitus biasanya akan memperberat keadaan infeksi COVID-19. Infeksi itu sendiri juga memperberat diabetes seseorang. Ini bisa saling menguatkan," kata dia.

Penderita COVID-19 dengan komorbid, kata Jerry, tetap dapat menjalankan puasa tapi tergantung pada derajat berat-ringannya penyakit COVID-19, yang terdiri dari lima klasifikasi: asimtomatik atau tanpa gejala, ringan, sedang, berat, dan kritis.  “Untuk yang ringan dan yang asimtomatik atau tanpa gejala, saya pikir ini masih bisa untuk melakukan puasa Ramadan. Namun, kalau kondisinya sudah lebih berat atau kondisi-kondisi yang memang membutuhkan obat rutin atau nutrisi lebih, ia tidak bisa menjalankan puasa di bulan Ramadan ini,” jelas Jerry.

Masalah puasa dengan komorbid sangat erat kaitannya, terutama pada pasien diabetes melitus. Pada saat orang berpuasa akan terjadi perubahan pola nutrisi dan kegiatan fisik sehingga perlu penyesuaian pada pasien tersebut.

“Gizinya berubah. Demikian juga dengan kondisi fisik seseorang, juga aktivitas fisik seseorang juga berubah. Keadaan ini menimbulkan perubahan pada kondisi glukosa dari pasien dengan diabetes. Di sini perlu ada penyesuaian dosis atau cara penggunaan obat-obatan,” kata Jerry. “Apalagi kalau dia juga penderita COVID-19.”

Pada pasien COVID-19 dengan komorbid ini harus dilihat betul apakah puasa ini dapat dia jalankan atau tidak dan tidak dapat dipukul rata. “Semuanya individual. Jadi, kita lihat kasus per kasus. Kapan dia bisa puasa, kapan tidak puasa. Harus dilihat derajat berat-ringannya,” kata Jerry. 

Jerry memberi tip untuk pasien COVID-19 dengan komorbid yang ingin menjalankan puasa sebagai berikut.

  1. Puasa dapat dilakukan pada pasien dengan gejala ringan atau asimtomatik.
  2. Jangan memutuskan sesuatu sendiri tapi harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, terutama pada pasien COVID-19 yang memiliki komorbid, sehingga ada keputusan yang baik buat pasien tersebut. Dokter akan punya rencana untuk pasien COVID-19 selama Ramadan ini, apalagi pasien dengan komorbid, misalnya dengan penyesuaian dosis obat, penyesuaian jenis olahraga, atau penyesuaian nutrisi, karena mereka akan berbeda dengan orang yang tidak berpuasa.
  3. Orang yang berpuasa akan mengalami perubahan pola nutrisi. Oleh karena itu, usahakan untuk mengkonsumsi air yang cukup dan makanan yang cukup sehingga energi yang dibutuhkan tercukupi oleh minuman atau makanan pada saat sahur dan berbuka.
  4. Pasien tetap dapat melakukan aktivitas fisik. Sesuaikan olahraga yang dapat dilakukan setelah berbuka puasa agar kondisi pasien tetap prima.
  5. Jangan lupa juga istirahat yang cukup. 
  6. Pasien-pasien COVID-19 yang tidak bergejala maupun yang kondisinya ringan tetap dapat menularkan penyakitnya ke orang lain. Oleh karena itu, janganlah keluar rumah. Lakukan isolasi mandiri di rumah. Lakukan ibadah di rumah saja sampai selesai isolasi atau dinyatakan sembuh.

Jerry mengizinkan pasien-pasien COVID-19 dengan komorbid untuk berpuasa tentunya dengan pemantauan yang ketat, yakni pemantauan kondisi kesehatan secara umum dan tanda vital pasien tersebut, dari suhu, saturasi oksigen, hingga tekanan darah. Semuanya harus diperiksa secara rutin. “Apabila ada perubahan kondisi, misalnya pasien menjadi demam tinggi atau batuk yang berlebihan atau sesak napas, maka ia harus tidak boleh berpuasa karena butuh konsumsi obat atau cairan,” kata Jerry. [*]

Penulis: Giri Inayah Abdullah


Index ePaper Download PDF ePaper