Perbaiki Diri
Lentera - 131 view


Salah satu peserta bertanya kepada sang guru bagaimana seseorang yang selalu berulang dalam berbuat salah dan khilaf. Padahal sudah selalu berusaha untuk menghindar, tetap saja suatu saat tanpa sengaja atau sengaja terulang kembali. Setelah itu menyesali perbuatan tersebut, tapi waktu berikutnya terulang lagi. Saya sampai bingung bagaimana harus menghentikannya, salah dan khilaf itu.

 

Itulah manusia, bukan malaikat. Manusia diberikan hawa nafsu, malaikat tidak. Sehingga malaikat taat setiap saat, tak ada salah dan khilaf, melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sepanjang waktu. Sementara manusia banyak dipengaruhi oleh hawa nafsunya. Manakala tak mampu mengendalikan, maka nafsulah yang akan menjadi pengendali sikap dan perilakunya. Jadi, suatu ketika dapat mengendalikan nafsunya, saat lain khilaf dan lupa. Begitulah tabiat manusia, tak terkecuali, semua punya salah dan khilaf.

 

Sejarahnya, sejak awal generasi manusia sudah mendapat informasi dan gambaran akan salah dan khilafnya Adam dan Hawa, bahkan generasi berikutnya Habil dan Qobil. Semua ini menjelaskan akan adanya salah dan khilaf dari generasi ke generasi. Salah dan khilaf ini akan terus mewarisi generasi berikutnya hingga akhir zaman, termasuk generasi yang sedang berjalan saat ini.

 

Tentu sangat banyak variasi salah dan khilaf yang pernah dilakukan manusia, sehingga setiap manusia berbeda kadar kemampuan dalam mengendalikan nafsunya. Ada manusia yang kuat dalam pengendalian nafsu jabatan dan harta, tapi rontok ketika menghadapi nafsu birahi atau sebaliknya. Bahkan ada yang tak sanggup mengendalikan nafsu ketiganya atau terkadang sanggup mengendalikan, terkadang gagal, bergantung situasi dan kondisinya.

 

Segencar apapun Operasi Tangkap Tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (OTT KPK), masih tetap ada saja pelanggaran sebagian penyelenggara negara dengan melakukan korupsi. Bukan salah OTT KPK, tapi tabiat manusia yang banyak lupa dan khilaf, sehingga masih ditemukan penyimpangan dan pelanggaran.

 

Dengan berbagai macam upaya dan cara, dapatkah khilaf dan salah ditiadakan ? Tak bisa. Hanya saja bisa diminimalkan. Sekurangnya ada 3 upaya untuk mengurangi salah dan khilaf itu.

 

Pertama kontrol internal (instrospeksi). Ini adalah kemampuan melihat, melindungi, dan memperbaiki diri sendiri secara terus-menerus.  Ada kemauan untuk belajar, sehingga mempunyai pengetahuan untuk membedakan mana yang salah dan benar, baik dan buruk, etis dan tidak etis. Kemudian mau melakukan pemilahan, mana yang salah dan benar, baik dan buruk, etis dan tidak etis. Selanjutnya menginternalisasikan semua yang benar, baik dan etis dalam diri dan membuang jauh semua yang salah, buruk dan tidak etis.

 

Adakalanya, manusia sudah tahu dan sudah memilah, tapi sulit dalam internalisasi dalam diri, karena faktor ini yang paling sulit dalam dunia nyata. Boleh jadi hanya sebagian yang dapat terinternalisasi, tapi sebagian lagi lepas kendali, karena tak sanggup mengendalikan nafsu. Sebab, nafsu itu mampu menampakkan kenikmatan dan keindahan nyata di depan mata, walau itu salah dan buruk, di sinilah jebakannya.

 

Sebab itu, ada baiknya introspeksi dilakukan secara periodik, dengan memilih waktu yang tepat untuk merenung atas perjalanan hidup harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Maka akan ada rem bila terlalu cepat dan ada kendali meluruskan bila terjadi salah arah dalam perjalanan, sehingga tidak terlalu jauh kalau salah arah dan mampu mengendalikan ketika berada di tepi jurang.

 

Kedua kontrol eksternal. Ini bersumber dari adanya aturan, hukum, budaya, teman, saudara, keluarga, dan pimpinan. Semuanya harus menjadi pengontrol dari luar terhadap sikap dan perilaku. Kita harus rela di atur oleh ketentuan yang berlaku. Baik melalui sadar hukum atau nasehat orang lain kepada kita. Orang berbuat salah dan khilaf, jarang sekali yang tidak tahu hukum dan ketentuan yang berlaku, umumnya mereka tahu. Bahkan tidak sedikit orang yang telah memberi nasihat agar waspada dan berhati-hati dalam mengemban amanah sebagai apapun atau sekecil apapun. Tapi, karena dorongan nafsu yang terlalu kuat, sehingga ia tak mampu mengendalikan.

 

Saling mengingatkan, adalah kontrol sosial yang sangat penting dalam kehidupan rumah tangga, bertetangga atau saat bekerja. Budaya saling mengingatkan harus tumbuh dan subur, sehingga komunitas dan lingkungan menjadi terbiasa dengan hal yang baik, benar, dan etis. Tumbuh rasa malu bila melakukan hal yang buruk, salah, dan tidak etis. Sehingga rasa malu menjadi budaya pribadi dan masyarakat. Sebab itu, budaya saling mengingatkan ini harus terus dijaga keberadaannya, sebagai warisan kepada generasi berikutnya.

 

Ketiga, berdoa. Sebagai manusia yang Berketuhanan Yang Maha Esa, maka doa menjadi salah satu upaya penguatan diri dan masyarakat untuk terus bertahan, komitmen dan konsisten dalam hal yang baik, benar, dan etis. Tak ada manusia super, kuat tanpa batas. Manusia banyak kelemahan, kekurangan dan keterbatasan, maka hendaknya selalu berdoa, munajat kepada Tuhan agar selalu diberikan kemudahan, kekuatan, dan kesabaran untuk tetap pada jalan yang baik, benar, dan etis.

 

Nah, jika ketiganya sudah kita lakukan dengan benar dan terus menerus, semoga akan ada perubahan dalam diri dan lingkungan, perubahan kepada yang lebih baik. Lalu, bagaimana kalau perubahan itu juga belum terlihat, maka itu menjadi kewajiban setiap diri untuk terus memperbaiki, minimal memperbaiki diri, karena dari sinilah semua kebaikan itu bermula.

 

Oleh: Prawito

Editor: Sopia Siregar


Index ePaper Download PDF ePaper