Periode Rawan Pasien Isolasi Mandiri
Info Sehat - 87 view


Hari kelima hingga kesepuluh adalah periode rawan bagi penderita COVID-19. Pasien yang isolasi di rumah harus memantau benar saturasi oksigen dan kondisi tubuhnya. 

Salah satu penyebab kematian pada pasien COVID-19 adalah terjadi perburukan saat melakukan isolasi mandiri (isoman) dan ketika sampai ke rumah sakit sudah terlambat untuk ditangani. Kondisi ini menjadi perhatian para tenaga kesehatan.

Menurut asisten profesor penyakit menular di University of Alberta, dr. Ilan Schwartz, sebagai besar pasien COVID-19 sembuh dalam waktu sekitar seminggu tapi sebagian kecil pasien justru mengalami perburukan. “Setelah gejala awal, keadaan menjadi stabil dan bahkan mungkin sedikit membaik, dan kemudian ada perburukan sekunder," kata dia, seperti dikutip The New York Times edisi 30 April 2020.

Meskipun setiap pasien berbeda, dokter mengatakan bahwa hari kelima hingga kesepuluh seringkali merupakan waktu yang paling mengkhawatirkan untuk komplikasi pernapasan, terutama untuk pasien yang lebih tua dan mereka yang memiliki penyakit penyerta, seperti tekanan darah tinggi, obesitas, atau diabetes. Menurut Profesor Kesehatan dan Kedokteran Populasi di N.Y.U. Kesehatan Langon,  dr. Leora Horwitz, jika pada penyakit lain setelah satu minggu menjalani perawatan bisa tampak mulai pulih, tapi tidak demikian bagi pasien yang terjangkit virus SARS CoV-2.

"Dengan Covid-19, saya memberi tahu orang-orang bahwa sekitar seminggu adalah saat saya ingin Anda benar-benar memperhatikan perasaan Anda. Jangan berpuas diri dan merasa semuanya sudah berakhir," kata dia kepada The New York Times.

Silent Hypoxia

Salah satu kondisi yang sering luput dari pasien isolasi madirin adalah silent hypoxia, yakni kondisi ketika kadar oksigen dalam tubuh turun dengan sangat lambat tanpa disadari hingga saturasi oksigen sangat rendah dan menyebabkan sesak napas parah. Pasien pada akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit dan saat dilakukan pemindaian terhadap paru-paru ditemukan kondisi ground-glass opacities, yakni penampilan kabur di bagian bawah kedua paru-paru.

Keadaan seperti ini muncul, selain karena keterbatasan masyarakat dalam memantau kondisi tubuhnya, juga disebabkan oleh pedoman yang dijadikan rujukan bahwa pasien dibawa ke rumah sakit ketika mengalami sesak napas. "Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, kami salah mengatakan kepada orang-orang untuk kembali hanya jika mereka mengalami sesak napas yang parah," kata Dr. Richard Levitan, dokter di ruang gawat darurat di New Hampshire yang mengimbau penggunaan oksimeter untuk mengetahui saturasi oksigen dan denyut nadi.

Penggunaan oksimeter disarankan untuk mengetahui saturasi oksigen, yang normalnya berada di sekitar 96 hingga 99 persen. Jika pembacaan oksigen darah turun menjadi sekitar 92 persen, pasien disarankan untuk menghubungi dokter atau segera ke fasilitas kesehatan. Selama di rumah, pasien juga dapat meningkatkan aliran oksigen ke paru-paru dengan tidak beristirahat terlentang. Beristirahat dalam posisi tengkurap dapat membuka bagian paru-paru yang tertekan saat berbaring telentang. Pasien juga dapat mengubah posisi tidur ke sisi kiri atau kanan atau duduk tegak di kursi.

Adapun dokter spesialis paru dari RSUP Persahabatan, Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K)., pada webinar “Isolasi Mandiri Pasien COVID-19” pada Jumat, 3 Juli lalu, mengatakan, jika saat melakukan isolasi mandiri di rumah, suhu tubuh pasien naik hingga 38 derajat atau mengalami gejala lain seperti sesak napas (napas lebih dari 24 kali dalam satu menit) dan saturasi oksigen kurang dari atau sama dengan 94 persen atau gejala berat lainnya (demam terus menerus, diare terus-menerus, muntah terus menerus, nyeri dada, gangguan kesadaran), maka pasien harus segera menghubungi petugas medis, rumah sakit, ambulans, atau segera ke instalasi gawat darurat.

Untuk menghindari keterlambatan penanganan, pemerintah Indonesia mengeluarkan imbauan agar masyarakat yang melakukan isolasi mandiri agar dapat bergabung ke fasilitas isolasi terpusat yang telah disediakan oleh setiap pemerintah daerah. "Saya titip supaya masuk (isolasi terpusat) karena dari data yang ada, varian delta ini sangat ganas. Jadi kalau tidak cepat ditangani nanti kalau saturasi oksigennya di bawah 90 susah menanganinya," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, pada 6 Agustus lalu. 

 

Penulis: Didit Tri Kertapati 


Index ePaper Download PDF ePaper