Pojok ASI Kemenkes untuk Cakupan ASI Eksklusif Lebih Tinggi
Potret - 225 view


Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan paling baik untuk bayi, khususnya usia 0 – 6 bulan, karena memiliki kandungan nutrisi, seperti vitamin, protein, karbohidrat, dan lemak yang diperlukan untuk tumbuh kembang bayi.  Beberapa data kajian dan fakta global dalam The Lancet Breastfeeding Series tahun 2016 membuktikan bahwa ASI eksklusif menurunkan angka kematian karena infeksi sebanyak 88% pada bayi berusia kurang dari 3 bulan. 

Tidak hanya bagi bayi, manfaat pemberian ASI pun juga dirasakan oleh sang ibu. Artikel berjudul “Inilah Sepuluh Manfaat ASI” yang dikutip dari laman www.kemkes.go.id menyebut bahwa ASI dapat mengurangi tingkat depresi pada ibu. Selain itu, ASI juga dapat membantu ibu menurunkan berat badan, mengurangi resiko kanker payudara pada ibu dan menghemat anggaran rumah tangga karena gratis. 

Pemberian ASI merupakan pemenuhan hak bagi setiap ibu dan anak. Oleh karena itu, untuk mendukung pemberian ASI di tempat kerja, baik eksklusif maupun lanjutan (hingga usia 2 tahun), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan fasilitas berupa Pojok ASI bagi karyawatinya yang sedang menyusui.

“Karena rekomendasi World Health Organization (WHO) itu bahwa makanan yang terbaik untuk bayi dan anak ada 4. Yang pertama IMD, kedua ASI eksklusif, ketiga MPASI, keempat bayi diberi ASI sampai usia 2 tahun. Nah, dari rekomendasi itulah kita usahakan dengan dibentuknya ruangan ASI ini kita mendukung ibu-ibu bisa memerah ASI dan bisa memberikan ASI-nya kepada bayinya, artinya agar bisa memberikan makanan yang terbaik bagi buah hatinya,” urai Lismartina, salah satu konselor Pojok ASI Kemenkes saat ditemui oleh Mediakom. 

Di samping itu, adanya Pojok ASI merupakan implementasi dari Peraturan Bersama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Kesehatan tentang Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu Selama Waktu Kerja di Tempat Kerja.

Pojok ASI Kemenkes Hadir Sejak 2006

Menurut Lis, sapaan akrab Lismartina, Pojok ASI didirikan pada tahun 2006. Ia mengatakan bahwa pada saat itu, Pojok ASI hanya ada satu dan masih bergabung dengan klinik (saat ini Unit Pelayanan Kesehatan Kemenkes). Berbeda dengan saat ini, Pojok ASI di Kemenkes tidak hanya ada satu, akan tetapi tersedia di beberapa lantai. 

“Ada di lantai 1 sama di lantai 4 jadi ada 2 yang besar. Tapi sebenarnya setiap dua lantai dua lantai itu ada juga. Di lantai 5 dan 7 juga ada, tapi kecil ya ‘ngga sebesar ini,” ujar Lis.

Terbentuknya Pojok ASI merupakan kerjasama dari 3 satuan kerja di Kemenkes, yaitu, Direktorat Gizi, Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga (Kesja OR) dan Biro Umum.

Lis mengungkapkan masing-masing direktorat memiliki peran yang berbeda-beda, misalnya saja Direktorat Gizi bertugas menyiapkan tenaga konselor dan materinya, Direktorat Kesja OR bertugas menyiapkan peralatan dan alat peraga dan Biro Umum menyiapkan tempatnya.

Peralatan Pendukung dan Konselor ASI 

Pojok ASI menyediakan alat perah ASI bagi ibu yang tidak membawa peralatan sendiri. Pada setiap ruangan paling sedikit ada 3 buah. Selain peralatan, Direktorat Kesja OR juga menyediakan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu menyusi berupa snack dan minuman sehat untuk asupan energi bagi sang ibu.

Melalui Pojok ASI, karyawati Kemenkes tak hanya bisa melakukan aktivitas memerah dan menyimpan ASI pada saat jam kerja. Namun, mereka juga bisa melakukan konseling. 

Saat ini ada 8 konselor ASI yang bertugas di Pojok ASI Kemenkes. Mereka stand by setiap Hari Selasa dan Kamis mulai pukul 10.00 hingga 14.00 WIB. Sehingga, mereka berjaga bergantian setiap minggunya. Lis menjelaskan untuk konselor hanya ada di 2 ruangan besar saja, namun, apabila di ruangan lain ada yang membutuhkan konseling, para konselor akan mendatangi mereka.

“Karyawan kita banyak ibu-ibu muda dan ternyata ibu-ibu muda ini perlu sekali pengetahuan tentang manfaat ASI, tentang bagaimana memerah ASI,” kata Lis.

Konseling di Pojok ASI tidak hanya terbatas tentang ASI saja, akan tetapi juga mengenai MPASI (Makanan Pendamping ASI). 

“Karena setelah ASI mereka harus MPASI. Agar setelah ASI eksklusif selesai mereka bisa memberikan MPASI yang tepat juga untuk bayinya. Jadi, bukan hanya ASI saja walapun di sini ditulisnya Ruang ASI tapi kita bahas juga tentang MPASI,” kata Lis.

Antusias Karyawati Kemenkes Tinggi

Antusiasme karyawati Kemenkes dalam menggunakan Pojok ASI cukup tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah kunjungan Pojok ASI di ruangan utama kira-kira sebanyak 36 orang setiap harinya, jumlah itu belum termasuk beberapa Pojok ASI yang lainnya. Saat berkunjung ke Pojok ASI mereka diwajibkan mengisi absen yang disediakan. Dalam form absen tersebut mereka juga harus mengisi jumlah perahan ASI pada hari itu. 

“Misalnya saja tanggal sekian dapetnya 150 cc, jamnya jam berapa, sudah dikasih MPASI belum, berapa kali, ada formulirnya, setiap orang mengisi jadi bisa terpantau,”jelas Lis.

Berdasarkan form yang diisi, rata-rata dalam sehari ibu-ibu yang memerah di Pojok ASI bisa menghasilkan paling sedikit 300cc dan paling banyak 500cc ASI setiap harinya.

Menurut Lis, ibu menyusui yang memanfaatkan Pojok ASI Kemenkes sebagian besar berhasil memberikan ASI eksklusif kepada buah hati mereka, bahkan tidak hanya ASI eksklusif, tapi hingga anak berusia 2 tahun. “Alhamdullilah, rata-rata mereka bisa memerah ASI sampai 2 tahun. Kita dukung terus, kita motivasi terus. Kalua misalnya ada masalah kita bantu. Kalua misalnya AS-Inya mulai berkurang misalnya stress pekerjaan banyak atau tidak sempat memerah ASI itu bagaimana solusinya itu kita beri tahu,” terang Lis.

Kehadiran Pojok ASI di Kemenkes sangat dirasakan manfaatnya oleh karyawati Kemenkes yang sedang menyusui. Salah satunya, Endang (28) yang baru saja melahirkan anak pertamanya 8 bulan yang lalu. Menurut Endang, dengan adanya Pojok ASI ia merasa lebih nyaman dalam memberikan ASI maupun menyediakan ASI perah (ASIP) sebagai oleh-oleh bagi sang buah hati, sehingga, kebutuhan ASI-nya tercukupi.

Namun, tidak hanya karyawati Kemenkes saja yang bisa memanfaatkan Pojok ASI, ibu non karyawati Kemenkes pun, menurut Lis, diijinkan untuk mempergunakan pojok ASI. 

“(Ibu menyusui non karyawati Kemenkes) Boleh. Kalau ada tamu yang sedang rapat di Kemenkes sering juga ke sini dan kita berikan konseling juga. Jadi banyak juga mereka yang datang ke sini, selain dari dalam Kemenkes, juga ada dari luar,” ungkapnya.

Penulis: Faradina Ayu

Editor : Prima Restri


Index ePaper Download PDF ePaper