Puasa di Tengah Pandemi
Media Utama - 165 view


Tahun 2021 menjadi tahun kedua bagi masyarakat muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, menjalankan puasa di bulan Ramadan pada masa pandemi COVID-19. Situasi pandemi memaksa masyarakat untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru, khususnya dalam menunaikan ibadah selama bulan suci.

Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dan kewaspadaan masyarakat selama beribadah di bulan Ramadan. Direktur Promosi Kesehatan dr. Imran Agus Nurali, Sp.KO mengingatkan masyarakat untuk memastikan dulu kondisi kesehatan tubuhnya. “Yang penting, berpuasa itu harus cukup gizi tapi tidak berlebihan. Kemudian cukup istirahat,” kata Imran kepada Mediakom pada Rabu, 21 April 2021.

Untuk itu, pola konsumsi makanan dan minuman perlu diatur. Pada saat santap sahur dan berbuka harus diatur porsi dan waktunya sehingga tidak terjadi penumpukan kalori yang mengganggu metabolisme tubuh. “Pengaturan makan yang baik sebenarnya setelah berbuka (makan) sedikit saja, kemudian salat magrib, lalu ditambah lagi berbuka yang ringan-ringan dulu, kemudian salat tarawih. Justru makan malamnya setelah salat tarawih. Itu akan lebih mengatur jumlah kalorinya sehingga tidak menumpuk di satu waktu sehingga metabolisme tubuh kita berjalan,” jelas Imran.

Pemenuhan cairan tubuh juga penting diatur, yakni dua liter air sehari. Ini agar tidak sampai terjadi dehidrasi selama sekitar 14 jam berpuasa. Konsumsinya dibagi mulai waktu sahur, berbuka puasa, di antara salat, dan sebelum tidur di malam hari.

Hadirnya penyedia jasa pemesanan makanan daring juga mempengaruhi kebiasaan pilihan menu makanan. Selain kandungan gizinya, pengemasan makanan dari penjual dan pengiriman oleh pengemudi ojek daring juga harus menjadi perhatian sehingga pada waktu diterima, makanan atau minuman yang dipesan dalam keadaan bersih dan aman untuk dikonsumsi.

Perubahan kebiasaan yang berbeda selama masa pandemi dirasakan ketika melaksanakan peribadatan di rumah ibadah, seperti masjid atau musala. Bagi umat Islam yang tetap ingin beribadah di luar rumah, harus tetap menerapkan protokol kesehatan 3M sejak keluar rumah. Apabila menggunakan kendaraan umum, protokol harus lebih ketat diterapkan. Caranya dengan tetap menggunakan masker, menjaga jarak antara penumpang dan pengemudi, dan menghindari makan-minum serta berkomunikasi, baik antar-penumpang maupun menggunakan telepon genggam. Ini untuk menjaga kemungkinan terjadinya transmisi virus selama perjalanan.

Imran juga mengharapkan masjid atau musala yang menyelenggarakan salat tarawih atau salat id menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Pengurus masjid harus tegas dalam mewajibkan jemaah memakai masker selama salat dan mengatur jarak aman. Di masjid juga sebaiknya tersedia sarana cuci tangan atau hand sanitizer yang memadai. Apabila tidak bisa dipenuhi, Imran menyarankan agar sebaiknya beribadah di rumah saja bersama keluarga.

Selama berpuasa, tentu masyarakat tetap dapat melakukan kegiatan lain, seperti bekerja, bersekolah, dan beragam aktivitas sosial lainnya. Orang yang berpuasa, kata Imran, sebenarnya justru harus tetap aktif. Menurut dokter spesialis kedokteran olahraga ini, jika orang terlalu lama beristirahat atau hanya di rumah saja tanpa kegiatan sama sekali akan membuat cepat lelah. Bagi yang bekerja dari rumah (WFH) pun pastilah tetap melakukan kegiatan, seperti mengikuti rapat virtual atau kegiatan luar kantor bersama rekan kerja. Mekanisme metabolisme tubuh harus dilakukan dengan menggerakkan otot tubuh.

Bagi pekerja yang harus ke kantor, kata Imran, dapat melakukan aktivitas fisik di sore hari mendekati waktu berbuka puasa setelah tiba di rumah. Selain untuk menjaga kebugaran, hal ini juga baik untuk yang ingin menurunkan berat badan. Supaya tidak terlalu melelahkan, Imran menyarankan mereka mengurangi beban aktivitas fisik, mengatur waktunya menjelang atau sesudah waktu berbuka, dan mempersingkat durasinya. “Sebenarnya orang yang berpuasa itu masih membutuhkan olahraga tapi jamnya saja dipindahkan ke sore hari,” terang kata Imran.

Pasien COVID-19 pun tetap dapat berpuasa dan melakukan ibadah lainnya sepanjang ia tidak mengalami gejala dan merasa mampu untuk melaksanakannya. Begitu juga yang gejalanya ringan atau hanya mengalami flu ringan pun dapat tetap berpuasa dan mengkonsumsi obat flu. Yang perlu dicatat, mereka harus mengetahui kondisi kesehatannya dan tetap memastikan nutrisi yang cukup supaya tidak mengganggu proses penyembuhannya. Sebaliknya, bagi yang sakitnya sedang atau berat, sesuai tuntunan agama mereka tidak wajib berpuasa.

“Ini kan disebut sebagai sakit sehingga kita tidak bisa berpuasa. Nanti kita ganti setelah selesai Ramadan. Kalau sakit yang sedang dan berat tentunya tidak perlu berpuasa karena nanti membutuhkan obat-obatan. Obat-obatan tidak menunggu waktu buka dan sahur, dia siang hari pun dia harus minum obat. Jadi tidak ada kewajiban berpuas bagi yang sakit,” tutur Imran.

Program Pemerintah Tetap Berjalan

Bulan Ramadan tidak mengendurkan upaya pemerintah dalam penanganan COVID-19. Dari data-data laporan yang diterima, upaya 3T (tracing, testing dan treatment) masih berjalan. Proses pelacakan masih dikerjakan oleh tenaga kesehatan atau relawan di pusat kesehatan masyarakat. Pengambilan dan pengujian sampel (testing) yang dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya laboratorium, juga masih berlangsung. Demikian pula dengan perawatan pasien di tempat karantina terpusat dan di rumah sakit.

“Mungkin dari sisi frekuensi intensitas tracing tidak terlalu sering. Dari sisi testing pun tetap berjalan tapi kami belum tahu laporannya karena yang kemarin ini agak turun karena memang mungkin di samping akhir pekan itu banyak hari libur sehingga sedikit menurunkan testing. Tapi semuanya tetap berjalan dan tidak ada halangan,” ungkap Imran.

Untuk mencegah terjadinya peningkatan kasus COVID-19 yang biasanya terjadi pasca-libur panjang, Satuan Tugas Penanganan COVID-19 telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2021 yang mengatur pelarangan mudik lebaran dan pengendalian COVID-19 selama Ramadan. Edaran ini bertujuan untuk menekan mobilitas masyarakat pada sebelum, selama, dan sesudah lebaran, tepatnya selama 6-17 Mei 2021. “Karena virus COVID-19 tidak bergerak, justru dia bergerak karena pergerakan manusia. Jadi kita seharusnya bisa memutus mata rantai penularan dengan cara mengurangi pergerakan,” kata Imran.

Di samping upaya 3T, vaksinasi juga masih digencarkan. Puasa tidak lagi menjadi penghalang. Jika memang sudah saatnya vaksinasi, segeralah divaksin. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan Fatwa MUI Nomor 13 Tahun 2021 tentang Hukum Vaksinasi COVID-19 Saat Berpuasa. Dalam fatwanya, MUI mempertimbangan adanya kekhawatiran di tengah masyarakat mengenai status hukum vaksinasi bagi orang yang tengah berpuasa. Di sisi lain, MUI juga menyadari bahwa vaksinasi dilakukan untuk percepatan penanggulangan wabah COVID-19.

Dalam fatwa MUI, vaksinasi COVID-19 yang dilakukan dengan suntikan ke dalam otot (intramuskular) tidak membatalkan puasa. Cara tersebut diperbolehkan sepanjang tidak menyebabkan bahaya. Meski begitu, MUI juga memberikan rekomendasi agar vaksinasi memperhatikan kondisi umat islam yang sedang berpuasa. Apabila vaksinasi di siang hari saat berpuasa dikhawatirkan menyebabkan bahaya karena kondisi tubuh yang lemah, maka vaksinasi dapat dilakukan pada malam hari. MUI juga mewajibkan umat islam berpartisipasi dalam program vaksinasi COVID-19.

“Jadi, janganlah menolak vaksinasi karena dengan divaksin kita bisa melindungi orang-orang yang tidak bisa divaksin, seperti orang tua dengan komorbid atau dengan penyakit autoimun. Fungsi kekebalan kelompok adalah kita melindungi orang-orang yang tidak bisa divaksin, bukan untuk melindungi orang-orang yang tidak mau divaksin. Ini berbeda. Yang masih egois ini harus tahu bahwa dia harus melindungi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat,” kata Imran. [*]

Penulis: Aji Muhawarman


Index ePaper Download PDF ePaper