Pukat si Anak Pintar
Resensi - 850 view


Judul                            : Pukat, recover dan retitle menjadi“Si Anak Pintar”

Penulis                         : TereLiye

No. ISBN                      : 978979110273-5

Penerbit                      : Republika

Tanggalterbit              : Cetakan I, Februari 2010

Jumlah Halaman         : 344 halaman

“Pukat” merupakan buku ke-2 dalam serial buku “Anak-anak Mamak”.

Pukat adalah anak laki-laki tertua dalam keluarga sederhana. Ia yang baru memasuki kelas 5 SD sudah memiliki pemahaman yang baik. Ia anak yang pandai, sering kali menjawab pertanyaan-pertanyaan Burlian.

Bukan cuma itu, Pukat acapkali menggunakan kepandaiannya untuk memecahkan masalah atau pun membantu orang.

Pukat, yang dididik dalam keluarga super-disiplin, memegang teguh nilai-nilai kebaikan, menjunjung tinggi kehormatan keluarga. Walaupun mereka berada di lingkungan yang jauh dari Kota Kabupaten maupun Kecamatan, tapi anak-anak Mamak memiliki cita-cita yang besar.

Petualangan

Petualangan Pukat dimulai saat pertama kali ia dan Burlian naik kereta api, benda yang Pukat sebut sebagai ular besi.

Banyak pengalaman yang dilalui selama berada di dalam kereta api. Mulai dari suguhan pemandangan hingga terowongan panjang yang amat gelap. Banyak pula hal terjadi selama dalam perjalanan tersebut, salah satunya karcis Burlian yang hilang hingga Bapak yang bertemu teman lamanya, Sipahuntar.

Pengalaman lain adalah ketika ada sekawanan perampok yang hendak merampas harta milik penumpang.

Saat perampok beraksi, Pukat menaburkan bubuk kopi yang  ada di pangkuannya. Kopi ditaburkan di celana dan sepatu perampok. Hal inilah yang pada akhirnya membantu polisi  menemukan kawanan perampok. Karena kecerdikan Pukat, komandan polisi kagum dengan ide dan aksi Pukat, hingga komandan polisi menjuluki Pukat dengan nama “Si Anak Jenius”.

Kesederhanaan hidup

Novel ini menceritakan tentang kesederhanaan hidup. Memberi pemahaman bahwa untuk mencapai sesuatu yang tinggi di tengah kesederhanaan bukanlah suatu halangan, tapi sebuah tantangan bagaimana menghormati cita-cita dengan kejujuran.

Salah satu contohnya adalah ketika Pukat hendak membeli pulpen. Saat itu anak pemilik warung sedang sakit sehingga warung harus tutup. Sang pemilik warung mengizinkan Pukat  mengambil sendiri barang yang diperlukannya.

Sementara itu, di sekolah, Pukat dikenal sebagai anak yang pintar dan mudah bergaul, sehingga ia memiliki banyak teman. Raji adalah teman karibnya dalam 5 tahunterakhir. Meskipun banyak perbedaan pendapat di antara mereka, akan tetapi mereka bisa menyelesaikan masalahnya.

Cita-cita

Meski Pukat adalah anak yang baik, tapi bukan berarti ia selalu menuruti semua perintah Mamaknya. Ia pernah membantah saat disuruh menghabiskan sarapan. Pukat merasa bosan dengan menu yang hanya nasi dan kecap asin.

Kisah kecil ini mengingatkan, dalam kondisi apapun kita harus tetap mensyukuri nikmat yang telah diberikanTuhan.

Singkat cerita, 14 tahun kemudian Pukat berhasil menggapai cita-citanya untuk bisa bersekolah di Amsterdam, dan ia berjanji akan segera kembali ke kampung halamannya untuk mengabdikan diri. [*]

Penulis: Tuti Fauziah


Index ePaper Download PDF ePaper