RSUP Persahabatan dan Upaya Pulihkan Pasien COVID-19
Potret - 85 view


Salah satu rumah sakit yang ditunjuk menjadi rumah sakit rujukan penanganan COVID-19 adalah Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan.

“Saat ini kami mendapat rujukan dalam satu hari, menerima sekitar 40 – 80 pasien, sehingga kami harus memilah pasien yang bisa kami terima untuk bisa kami sesuaikan dengan kasusnya,” kata Direktur Utama RSUP Persahabatan, dr. Rita Rogayah, Sp.P(K), MARS melalui keterangan tertulis.

RSUP Persahabatan membagi 3 kasus rujukan yang diterimanya: Kasus ringan sekitar 30 - 40 %, kasus sedang 30-60 %, kasus berat 10-15 %. Namun, karena keterbatasan sarana prasarana, tidak semua pasien yang dirujuk ke RSUP Persahabatan bisa ditangani di sana.

“Dari kasus rujukan tersebut, yang dapat kami tangani kurang lebih 12-15 %,” ungkap Rita.

Sarana

RSUP Persahabatan yang memang merupakan rumah sakit rujukan untuk penyakit infeksi menular sudah memiliki sejumlah fasilitas untuk pasien COVID-19. Sarana tersebut berupa ruang isolasi yang sebelumnya disiapkan untuk kasus-kasus pasien new-emerging dan re-emerging, yaitu ruang PINERE (Penyakit Infeksi New-Emerging dan Re-Emerging) dengan kapasitas terbatas.

“Saat pertama, kami hanya mempunyai 6 ruangan untuk menangani kasus new-emergine. COVID-19 ini masuk dalam kelompok new-emergine, di mana 6 tempat tidur tersebut, dua mempunyai kapasitas untuk ICU,” jelas Rita.

Awal mula menerima pasien COVID-19, RSUP Persahabatan hanya menyiapkan 24 tempat tidur dengan satu ruang Isolasi, tapi dengan adanya peningkatan kasus COVID-19, RSUP Persahabatan telah melakukan perluasan bertahap. Di antaranya dengan mengubah ruangan yang biasanya digunakan untuk pasien Tuberkulosis Resisten Obat (TB-RO) menjadi ruang perawatan pasien COVID-19, sedangkan pasien TB-RO dirujuk ke rumah sakit lain.

Menurut Rita, RSUP Persahabatan kini sudah bisa menampung hingga 100 tempat tidur. Rita optimistis dengan sumber daya manusia yang ada, RSUP Persahabatan dapat meningkatkan kapasitas hingga 200 Tempat Tidur.

“Ini kami lakukan dengan melihat kondisi kekuatan SDM dan kekuatan sarana dan prasarana yang kami bisa siapkan. Untuk kasus COVID-19 ini ruangannya pun kami ubah menjadi ruangan isolasi sesuai dengan standar,” jelas Rita.

RSUP Persahabatan juga menyiapkan poliklinik khusus untuk pasien berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP). Dalam pemeriksaan poli ODP ini tidak semua pasien akan dirawat, RSUP Persahabatan akan menyeleksi pasien yang memiliki indikasi kasus ringan, sedang, dan berat atau disebut juga dengan triase.

“Sehingga kita menemukan dari poli ODP kasus ringan, kami akan rujuk ke RS Wisma Atlet, bila ditemukan kasus sedang  atau berat maka ini adalah indikasi untuk dilakukan perawatan di rumah sakit,” terang Rita.

Sekadar menyegarkan ingatan, Presiden Joko Widodo meresmikan Wisma Atlet Kemayoran menjadi Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 pada Senin (23 Maret 2020).   

Lebih lanjut Rita menyampaikan bahwa untuk kasus-kasus yang berat, pihaknya akan menyiapkan kapasitas tempat tidur terutama untuk ICU. Di ruang isolasi penyakit emerging dan new-emerging, RSUP Persahabatan juga memiliki kamar jenazah khusus, sehingga semua pemulasaran jenazah untuk pasien yang berstatus Pasien Dalam Penggawasan (PDP) ataupun pasien positif COVID-19 harus mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk kasus COVID-19.

“Jika hasil belum ada, maka dianggap tetap seperti COVID-19, mereka dilakukan pemulasaran jenazah sesuai standar,” terang Rita.

Setelah dilakukan pemulasaran jenazah, selanjutnya RSUP Persahabatan akan bekerja sama dengan Dinas Pemakaman DKI untuk membawa jenazah tersebut ke pemakaman.

Fokus

Saat ini RSUP Persahabatan fokus melayani kasus COVID-19, terutama untuk kegawatdaruratan.  Sementara itu, pasien yang tidak menunjukan gejala COVID-19 akan dialihkan ke rumah sakit di sekitar RSUP Persahabatan.

“IGD tidak melayani pasien umum, IGD RSUP Persahabatan hanya melayani kasus-kasus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) atau COVID-19, sehingga tidak ada lagi pasien umum yang dirawat di RSUP Persahabatan. Saat ini pasien umum tinggal 5% jika sudah sembuh semua akan kami pulangkan dan tidak menerima pasien umum lagi,” terang Rita.

Namun, meski demikian, pelayanan kesehatan di poliklinik masih bisa melayani pasien non-COVID-19 karena lokasinya yang berjauhan sehingga dianggap sebagai  zona hijau.

Untuk penanganan pasien COVID-19 di RSUP Persahabatan, Rita mengungkapkan, tak hanya melibatkan dokter spesialis paru, tapi juga melibatkan beberapa dokter spesialis lain.

“Saat ini kami sudah membuat strategi kalau seandainya 200 tempat tidur yang digunakan itu untuk COVID-19, maka dokter yang ikut duduk menangani pasien ini tidak hanya dokter spesialis paru, maka kami akan melibatkan beberapa spesialis lain menjadi tim,” katanya.

Selain melibatkan berbagai dokter, Rita juga melibatkan para perawat di RSUP Persahabatan, yang kini memang difokuskan untuk merawat pasien Covid-19.

“Semua perawat rawat inap terfokus kepada pasien COVID-19, kecuali poliklinik yang kami anggap masih zona hijau yang bisa menerima pasien rawat jalan,” urai Rita.

Sebagai dukungan kepada para tenaga medis yang bertugas, RSUP Persahabatan menyediakan APD bagi tenaga medis disertai asupan makanan secara rutin dan juga vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh mereka. Jadwal pejuang garda terdepan ini juga dibuat dengan sebaik-baiknya untuk menghindari kelelahan saat bertugas.

“Jika pasien biasa mereka 1 shift bertugas bisa 3 atau 4 orang. Maka saat ini kebutuhan mereka bertugas menjadi 2 kali lipat atau bisa 3 kali lipat, tujuannya agar mereka tidak kelelahan,” pungkas Rita. [*]

Penulis             : Faradina Ayu dan Ifa Nurul Utami


Index ePaper Download PDF ePaper