Saat Flu Perut Melanda
Info Sehat - 193 view


Saat Flu Perut Melanda

Danti (30 tahun) tengah getol meniru vlogger vegan yang pamer makan salad sayur dengan dressing saus mayo. Setiap hari selama sebulan terakhir ia rajin membeli sayuran, mencucinya, mengupas lalu memakan mentah.

Tiba-tiba satu hari perutnya bergejolak. Sehari ia bolak balik ke toilet untuk Buang Air Besar (BAB) hingga 20 kali. Ibu satu anak itu pun memeriksakan diri ke dokter karena tubuhnya mulai lemas akibat dehidrasi. Dokter mendiagnosisi Danti diare akibat terkena flu perut. 

Bagi sebagian orang, istilah flu perut alias gastroenteritis masih asing di telinga. Namun, kalau kita menyebutnya dengan muntaber, pasti setiap orang sudah akrab dengan salah satu nama penyakit pencernaan paling umum ini, bahkan mungkin sebagian besar dari kita pernah mengalaminya. 

Dari laman resmi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (Center for Disease Control and Prevention/CDC AS), www.cdc.gov, penyebab flu perut adalah karena infeksi pada lambung dan usus yang disebabkan oleh beberapa jenis virus seperti Norovirus, bakteri juga parasit. 

Beda Dengan Diare

Meski flu perut dan diare memiliki gejala yang mirip dan susah dibedakan orang awam, namun flu perut adalah penyakit yang berbeda dengan diare. Flu perut dan diare memang sama-sama bisa disebabkan oleh konsumsi makanan-minuman yang terkontaminasi virus, bakteri, dan/atau parasit. Keduanya juga menunjukkan gejala umum yang mirip, yaitu sakit perut dan bolak-balik BAB dengan wujud feses cenderung cair.

Namun, kedua masalah pencernaan ini sebenarnya berbeda. Terserang diare bukan sudah pasti terkena flu perut. Karena diare itu sebenarnya merupakan sebuah gejala dari suatu penyakit, bukan suatu jenis penyakit yang berdiri sendiri. Sementara, flu perut adalah jenis penyakit infeksi yang dapat menyebabkan diare, karena infeksi ini menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan kita.

Secara global, sebagian besar kasus pada anak-anak disebabkan oleh Rotavirus. Pada orang dewasa, penyebabnya lebih umum oleh Norovirus dan Campylobacter. Penyebab lain yang lebih jarang ditemukan adalah disebabkan oleh racun bakteri dan parasit. 

Karena merupakan penyakit infeksi, penularan flu perut bisa terjadi karena mengonsumsi makanan yang dimasak secara tidak benar atau air yang terkontaminasi atau melalui persinggungan langsung dengan orang yang terinfeksi. Flu perut bisa menyebabkan mual, muntah, diare, kram perut, atau terkadang demam pada penderitanya. 

Penyebarannya di fasilitas umum yang tertutup, seperti di dalam ruang kelas, tempat perawatan anak, atau ruang perawatan umum. Bahkan pernah terjadi endemi flu perut di AS pada kurun waktu 2009-2012, karena mengonsumsi makanan atau minuman yang tercemar yang mengakibatkan kerugian ekonomi sekitar US$ 2 juta.

Data CDC tahun 2018 menunjukkan terdapat 19-21 juta kasus flu perut di AS setiap tahunnya dengan korban meninggal dunia mencapai 570-800 orang dan harus mendapat penanganan rawat inap sebanyak 56-71 ribu. Karena rata-rata Norovirus menyerang anak-anak di bawah 5 tahun, tak ayal sekitar 1 juta lebih kunjungan pasien anak ke Rumah Sakit (RS) disebabkan oleh virus tersebut.

Namun, tak perlu khawatir, penyakit ini tetap bisa disembukan. Untuk kasus ringan atau sedang, penyembuhan bisa dilakukan melalui pemberian larutan rehidrasi oral. Untuk kasus yang lebih berat, pemberian cairan melalui infus mungkin diperlukan. 

Situs www.healthline.com punya daftar minuman dan makanan yang bisa memulihkan kondisi perut secara bertahap. Karena hal paling utama dalam penanganan penyakit ini adalah hidrasi yang cukup. 

 

  • Minuman anti dehidrasi

 

Air putih matang, jus buah (apel, cranberry, anggur) dan air kelapa ampuh menjadi penolong pertama dehidrasi saat diare melanda. Namun, jus buah dengan kadar gula tinggi hanya diperuntukkan bagi pemulihan flu perut yang dialami oleh orang dewasa. Bayi dan anak-anak hanya diperbolehkan minum jus buah dengan catatan dari dokter gizi yang menyertakan tingkat kekentalan serta kadar gula secara tepat agar tak membuat diare bertambah parah.

 

  • Minuman elektrolit

 

Minuman dengan kandungan elektrolit dan mineral dapat memperbaiki fungsi jaringan tubuh secara cepat. Zat elektrolit dalam minuman dapat mengganti kandungan elektrolit tubuh yang hilang akibat diare. Minuman jenis ini mengandung air, gula, dan elektrolit dengan porsi spesifik sehingga mudah diserap oleh alat pencernaan dan merehidrasi tubuh.

 

  • Teh peppermint

 

Teh dari daun peppermint yang punya rasa ‘semriwing’ ternyata juga dikenal ampuh mengatasi gejala flu perut, yakni mual dan muntah. Sebuah penelitian yang melibatkan 26 orang membuktikan efek menghirup teh peppermint ampuh terhadap 58% partisipan. 

 

  • Jahe

 

Jahe yang penuh rasa kehangatan niscaya cocok menghilangkan gejala utama flu perut, yakni mual. Pemanfaatan jahe bisa dicampur ke dalam minuman seperti teh ataupun air hangat. Ingin lebih praktis, cukup mengunyah permen jahe ataupun menyeduh sirup jahe. Ingat, pengunaan jahe yang berlebihan malah dapat mengakibatkan diare semakin parah.

 

  • Sup kaldu bening

 

The American College of Gastroenterology merekomendasikan sup kaldu ayam ataupun kaldu sapi sebagai pilihan makanan pertama saat masa transisi pemulihan flu perut. Air kaldu asli yang kaya Sodium diyakini sebagai sumber elektrolit alami pencegah gejala flu perut.  Satu mangkok kaldu dengan volume 240 mililiter (ml) saja mengandung sekitar 90% air dan menyediakan 50% kebutuhan Sodium harian.

 

  • Buah kaya air

 

Mendekati tahap pemulihan tubuh dari flu perut, dokter menyarankan untuk mencoba buah-buahan yang mengandung 80-90% air. Urutan buah yang mengandung air tertinggi untuk rehidrasi tubuh adalah semangka, strawberry, melon, dan peach. Selain punya kandungan air yang tinggi, buah-buahan ini menyediakan Vitamin A, Vitamin C, dan mineral seperti Potasium.

Agar proses pemulihan flu perut sempurna, alangkah bijaknya jika mengonsumsi makanan dan minuman tadi disertai dengan istirahat yang cukup. Jangan lupa untuk tidak memakan sayuran mentah yang belum dicuci dengan bersih

 

Penulis: Indah Wulandari

Editor: Sopia Siregar


Index ePaper Download PDF ePaper