Sardjito VAC , Tekan Biaya Perawatan Luka Kronis
Terobosan - 352 view


Luka kronis adalah luka lama yang tak kunjung sembuh. Pengobatan luka kronis tak sekadar memberikan obat luka, lalu luka akan sembuh. Butuh perawatan atau bahkan alat khusus yang harganya tidak murah untuk penanganan luka kronis ini.

Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito berhasil membuat terobosan dengan inovasi alat perawatan luka kronis berbentuk Vacuum Assisted Closure (VAC). Alat ini meraih penghargaan di ajang Top 99 Inovasi Pelayanan Publik 2019 yang diadakan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB).

Mesin VAC inovasi RSUP Dr. Sardjito mendapatkan penghargaan karena mampu menekan biaya pengadaan serta biaya penggunaannya pada pasien. Inovasi tersebut telah memungkinkan mesin VAC digunakan di Indonesia, karena biayanya yang sangat terjangkau. VAC atau Negative Pressure Wound Therapy (NPWT), merupakan teknologi perawatan untuk berbagai kondisi luka, baik akut maupun kronis dan terbengkalai (neglected).

Mengutip dari situs RSUP Dr. Sardjito, sardjito.co.id, dijelaskan di banyak negara, metode ini sudah sangat lazim digunakan karena secara klinis terbukti sangat baik. Namun di Indonesia cara ini kurang dilirik, lantaran biayanya yang sangat mahal. Harga mesin VAC buatan pabrik mencapai lebih dari Rp 60.000.000, sehingga pasien yang menggunakan alat tersebut harus mengeluarkan biaya yang bisa mencapai jutaan rupiah hanya untuk satu kali perawatan.

Tingginya biaya pengadaan (pembelian) mesin VAC dan biaya penggunaan untuk perawatan pasien menggunakan alat tersebut, sangat jauh berbeda jika menggunakan mesin Sardjito VAC. Harga mesin Sardjito VAC hanya sekitar Rp 700.000. Sehingga pasien yang menggunakan mesin ini hanya perlu mengeluarkan biaya sekitar Rp 350.000 untuk satu kali pemakaian atau perawatan.

 

Sesuai Standar Internasional

Selama 3 tahun ini, RSUP Dr. Sardjito telah menggunakan mesin tersebut untuk manajemen luka para pasien, baik di kamar operasi, perawatan luka di  bangsal maupun poliklinik atau rawat jalan. Efektivitasnya tak kalah dengan mesin serupa yang ada di pasaran.

Penelitian terhadap 11 pasien dengan luka serius yang dirawat menggunakan Sardjito VAC, mendapat rerata (mean) Long of Stay (LOS) atau lama perawatan di RS hanya 22,8 hari. Hasil ini sama dengan penelitian-penilitian pada jurnal internasional tentang VAC, yaitu Mean LOS selama 21-29 hari. Penelitian tersebut telah dipresentasikan secara nasional di ajang COE pada 9-12 Mei 2018 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Penelitian kemudian dikembangkan lagi dengan jumlah sampel lebih banyak dan dilakukan perbandingan. Sebanyak 20 pasien (sampel) dirawat secara konvensional dan 20 pasien  dirawat menggunakan Sardjito VAC. Hasilnya menunjukkan Sardjito VAC memiliki efek lebih baik dibandingkan cara konvensional dalam proses penyembuhan luka.

Dengan alat tersebut, pasien yang semula membutuhkan waktu berminggu-minggu di RS, kini hanya perlu waktu 3 hari setelah ganti VAC pertama. Selanjutnya, pasien dapat dirawat jalan karena rumah sakit meminjamkan mesin Sardjito VAC untuk dibawa pulang oleh pasien. Hal  ini berdampak pada berkurangnya masa LOS rawat inap, tanpa mengurangi kualitas pelayanan yang optimal, hingga luka siap dilakukan cangkok kulit (skin graft) atau operasi rekonstruksi tahap lanjut lainnya.

Alat ini dikembangkan oleh KSM Orthopaedi dan Traumatologi Sub Divisi Bedah Tangan dan Extremitas Atas-Mikro Rekonstruksi RSUP Dr. Sardjito bekerja sama dengan Laboratorium Fisika Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM). Direktur Utama RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, Dr. dr. Darwito, SH., Sp.B (K) Onk., menjelaskan, Sardjito VAC pada dasarnya diciptakan dengan memodifikasi mesin aerator akuarium. Modifikasi dilakukan dengan mengubah arah kipas mesin sehingga aerator akuarium yang semula berfungsi mengeluarkan udara menjadi mesin yang menghisap udara dan dapat dimanfaatkan sebagai mesin penghasil tekanan negatif.

“Kami menggunakan Aerator Pump Revoun DC-111, untuk menghasilkan tekanan negatif  hingga minus  120 mmHg sehingga dapat dimanfaatkan sebagai mesin  VAC,” jelas dr. Darwito.

 

Lebih Murah

Unit mesin serta Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) jauh lebih murah karena memanfaatkan botol bekas infus yang telah disterilkan dan busa alas seterika pakaian (polyurethane foam). Menurut Darwito, inovasi VAC telah membuat perawatan luka menggunakan VAC/NPWT yang semula dianggap perawatan mewah menjadi perawatan yang sangat terjangkau dan dapat dengan mudah didistribusikan ke daerah-daerah pelosok, utamanya di daerah pascabencana.

Dengan penggunaan bahan ekonomis, namun memberikan hasil yang optimal, membuat Sardjito VAC berhasil meraih penghargaan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik 2019 dari Kementerian PANRB. Darwito berharap, ke depan mesin ini dapat lebih berguna lagi untuk memberikan pelayanan yang murah dan bermutu bagi pasien, khususnya yang membutuhkan pelayanan rawat luka di Indonesia. “Dan, semoga inovasi layanan publik ini dapat menjadi motivator bagi unit satuan kerja lainnya di RSUP Dr. Sardjito untuk terus berorientasi pada inovasi di bidang pelayanan publik,” pungkasnya.

Menurut inovatornya, dr. Meirizal, Sp.OT (K) , Sardjito VAC telah mendapat kepercayaan dari Persatuan Ahli Bedah Orthopaedi Indonesia (PABOI) Pusat dan Persatuan Extremitas Atas Mikrorekonstruksi Indonesia (PERAMOI) untuk membantu manajemen luka pasien-pasien korban bencana gempa di  Lombok, Nusa Tenggara Barat pada 29 Juli 2018 dan Kota Palu, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018.

 

Penulis: Prawito

Editor: Sopia Siregar


Index ePaper Download PDF ePaper