Suara Hati Pejuang Medis Saat Menghadapi Covid-19
Media Utama - 132 view


Suara Hati Pejuang Medis Saat Menghadapi Covid-19

Penulis: Prawito dan Didit TK, Editor : Sulistyo

Pemerintah terus berupaya mengurangi penyebaran Covid-19, begitu juga para petugas kesehatan yang berada di garda terdepan penanganan pasien Covid-19. Para petugas tersebut menyampaikan pesan kepada masyarakat untuk tetap di rumah selama tidak ada hal yang penting serta mengikuti imbauan yang telah disampaikan.

“Terutama memahami dan mau mengikuti anjuran tatalaksana karantina penyakit dan jenazah. Jangan mengucilkan tenaga kesehatan sampai membuat finah sosial karena sangat merugikan,” ujar dr. Iin Inayah yang bekerja di bagian instalasi gawat darurat (IGD) Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Pondok Kopi.        

Hal senada disampaikan Nita Lismayasika, perawat yang juga bertugas di RS tersebut, berharap masyarakat mematuhi imbauan pemerintah untuk tetap di rumah, hidup sehat, dan selalu cuci tangan. Apabila masyarakat mengikuti anjuran tersebut, maka sangat membantu petugas kesehatan yang berjuang menangani pasien Covid-19.

Stay at home sehingga dapat memutus rantai dari penyebaran covid-19. Kami pun petugas medis, terutama di rumah sakit rujukan, dapat membantu secara maksimal, mengingat jumlah penderita semakin bertambah dan persediaan APD yang makin sulit dan mahal untuk didapatkan,” pesan Nita.

Menurut Nita, para petugas medis terus berupaya memberikan pertolongan yang terbaik bagi masyarakat. Apabila ada warga yang datang untuk diperiksa sebaiknya memberikan keterangan dengan jujur, karena risiko yang dihadapi para petugas kesehatan saat berhadapan dengan orang diduga terinfeksi Covid-19 sangat besar.

Bahkan, kata Nita, sudah puluhan tenaga kesehatan yang meninggal saat membantu menangani pasien Covid-19.

“Sedih serta ketakutan akan ikut tertular dalam menangani pasien Covid-19. Yang paling menyedihkan adalah ketika melihat satu persatu teman-teman seperjuangan gugur, baik dokter ataupun perawat. Lebih menyedihkan lagi jika ada teman-teman kami tenaga medis, yang mendapatkan diskriminasi di masyarakat,” terang Nita.

Nita melanjutkan, situasi yang dihadapi saat ini mengharuskan para petugas kesehatan tidak cukup menggunakan masker bedah dan sarung tangan, tapi juga harus menggunakan baju hazmat kala menghadapi pasien. Hal ini jelas tidak mudah karena harus digunakan selama jam tugas.

“Ketika menggunakan baju hazmat saat memberikan perawatan di kamar isolasi dengan pasien positif Covid-19 di dalamnya, rasanya campur aduk, panas , napas terasa engap, keringat mengalir di dalam,” tutur Nita.

Saling dukung sesama petugas yang bekerja di rumah sakit memberikan kekuatan untuk tetap menjalankan tugas dengan baik. Di samping itu, keyakinan bahwa Tuhan akan selalu melindungi selama bertugas memberikan dorongan positif selama menjalani pekerjaan.

“Karena dengan mengingat Allah kekuatan ini ada dan rasa khawatir ini menjadi pudar. Saya bersama  teman-teman selalu saling menguatkan, mengingatkan satu sama lain, sehingga timbul rasa kebersamaan yang kuat untuk dapat melawan covid-19,” papar Nita.

Harapan

Nita menceritakan pengalamannya usai merawat pasien positif Covid-19, di mana saat itu dirinya khawatir menjadi carier atau pembawa virus yang dapat menularkan kepada suami dan anak-anaknya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengisolasi diri dari keluarga: kedua anaknya dititipkan ke rumah nenek, satu anak lagi ada di pondok pesantren, dan suami untuk sementara menempati kamar bagian atas rumah.

“Terasa sangat sepi, kangen untuk kumpul lagi. Setelah 14 hari lamanya saya mengisolasikan diri. Merasa yakin aman, baik-baik saja, baru hari ke-16 saya bisa berkumpul lagi bersama keluarga,” tutur Nita.

Nita dan seluruh  petugas medis memiliki harapan agar wabah Covid-19 segera berakhir, baik di Indonesia maupun di belahan bumi lainnya.

Segala upaya yang telah diperjuangkan sepenuhnya disandarkan kepada pemilik alam semesta ini agar segera mengakhiri wabah yang telah menewaskan lebih dari ratusan ribu manusia di dunia.

“Saya yakin Allah tidak tidur dengan apa yang sudah saya dan teman-teman lakukan untuk membantu semaksimal mungkin pasien yang menderita Covid-19. Semuanya kami lakukan  agar raga yang lain tetap terjaga dan saya meyakini Allah yang akan selalu menjaga raga kami, keikhlasan kami cukup Allah yang membalasnya. Allah yang berjanji, pasti ditepati,” tutup Nita.


Index ePaper Download PDF ePaper