Tantangan Penangan Pasien Kronis Ganda
Kolom - 130 view


Keadaan penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Hal ini menyebabkan biaya pelayanan kesehatan menjadi mahal karena pengobatannya seumur hidup. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan melaporkan bahwa penyakit katastropik terbanyak adalah penyakit tidak menular. Kurang lebih 21 persen biaya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diperuntukkan untuk penyakit katastropik.

Sayangnya, tidak ada angka yang menunjukkan pembiayaan secara khusus terhadap penderita multiple chronic condition (MCC) atau keadaan kronis ganda (KKG). Bayangkan, kalau satu penyakit kronis saja pengobatannya sudah begitu sulit, lama, dan mahal, maka penderita beberapa penyakit sekaligus akan menanggung biaya yang jauh lebih besar.

Keadaan Kronis Ganda

Banyak sekali definisi mengenai multiple chronic condition, seperti komorbid, multimorbidity, polychronicity, chronic conditions, chronic diseases, dan chronic disease cluster. Definisi KKG yang sederhana, menurut Hajat (2019), adalah adanya dua atau lebih penyakit kronis yang diderita oleh seseorang.

Dua atau lebih penyakit tidak menular dapat saling menyebabkan gejala pada seseorang. Seseorang dapat menderita penyakit hipertensi lalu menderita DM atau sebaliknya. Orang juga bisa menderita DM sekaligus tuberkulosis (TB). Inilah yang disebut sebagai keadaan kronis ganda.

Perawatan pasien dalam keadaan kronis ganda tidak mudah karena memerlukan banyak keahlian dan kolaborasi beberapa dokter atau bahkan rumah sakit. Bila seseorang menderita sakit jantung, ia bisa dirujuk ke unit kardiologi. Namun, kalau dia juga mengalami stroke, maka ada kemungkinan dia harus pula dirujuk ke unit neurologi. Kolaborasi harus menjamin adanya komunikasi antar-dokter secara real time sehingga obat yang diberikan tidak banyak tetapi manjur sehingga polifarmasi dapat dihindari.

Penyakit KKG umumnya adalah penyakit kardiovaskular, stroke dengan depresi, TB dengan diabetes, dan HIV/AIDS dengan kardiovaskular (Hajat, 2019). Keadaan kronis yang paling banyak menyumbang pada beban penyakit (disease burden) secara global adalah penyakit jantung iskemik, kanker paru, stroke, depresi, diabetes, serta nyeri punggung dan leher. Lima faktor risiko besar penyebab KKG adalah tekanan darah tinggi, tingginya gula darah puasa, merokok, total kolesterol yang tinggi, dan indeks massa tubuh (BMI) yang tinggi. Menurut Marengoni dkk (2011), satu di antara tiga orang dewasa menderita lebih dari satu PTM atau KKG yang akan meningkatkan biaya pelayanan kesehatan

Kondisi Indonesia

Data tentang KKG di Indonesia belum ada meskipun kasusnya sudah banyak. Perlu ada persamaan persepsi mengenai KKG, yang umumnya didominasi penyakit tidak menular.

Di Indonesia sudah banyak rumah sakit yang memberikan pelayanan kolaboratif untuk pasien dengan dua penyakit kronis atau lebih, terutama di rumah sakit pendidikan, yang mungkin dapat ditiru rumah sakit lain. Namun, distribusi tenaga kesehatan belum merata. Masih ada rumah sakit yang belum memenuhi standar tenaga kesehatan. Misalnya, masih ada 49 rumah sakit umum daerah yang belum mempunyai empat dokter spesialis dasar. Keadaan ini perlu diperbaiki.

Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan fasilitas kesehatan primer lain harus juga diberi kemampuan untuk memberikan pelayanan yang memadai. Peran mereka sangat penting karena dapat melakukan deteksi dini dan melakukan kunjungan rumah serta pelayanan kontrol (maintenance). Kemampuan deteksi dini sudah ada di puskesmas untuk beberapa penyakit tidak menular dan menular.

Namun, keberadaan tenaga kesehatan di puskesmas masih bermasalah. Masih terdapat 7 persen dari 10 ribu lebih puskesmas yang belum mempunyai dokter. Masih sedikit sekali puskesmas yang mempunyai dokter layanan primer atau dokter spesialis kedokteran keluarga layanan primer yang mempunyai kemampuan untuk menerima rujukan balik.

Pemerintah perlu membangun sistem pelaporan sebagai dasar penyusunan kebijakan. Sistem pelaporan ini dapat diakses dan dimanfaatkan institusi pusat maupun daerah untuk tindak lanjut berikutnya.

Pelayanan KKG ini perlu didukung JKN sehingga keterlibatan berbagai tenaga kesehatan akan kompak. Ini termasuk dalam sistem catatan medis yang komprehensif, yang memberikan kemudahan untuk memberikan pengobatan dan penanganan lebih lanjut. Perlu dicarikan pembiayaan tambahan di luar JKN yang mampu membiayai pelayanan hospice atau home care yang sangat dibutuhkan oleh pasien. Alternatifnya, ada skema khusus di JKN yang membiayai pelayanan untuk keadaan ini. Di Jepang, misalnya, setiap pekerja di atas usia 45 tahun mendapat pajak tambahan khusus untuk kebutuhan asuransi orang lanjut usia.

Upaya pencegahan sangat penting dan harus dilakukan sejak awal sebelum terjadi KKG, baik pencegahan primer melalui vaksinasi dan perilaku hidup bersih dan sehat yang masif. Penderita harus mengurangi risiko yang mungkin memperberat penyakit, seperti rokok, gula, garam, dan alkohol. Penderita juga harus mengurangi bahan berbahaya di makanan maupun kosmetik, seperti penggunaan zat pewarna dan merkuri.

Pencegahan sekunder dilakukan dengan deteksi dini dan pengobatan yang benar agar penyakit terkontrol dan tidak bertambah dua atau lebih penyakit lain. Diabetes biasanya adalah penyakit pencetus timbulnya penyakit tambahan kronis lainnya yang perlu dikontrol. Pencegahan tersier dilakukan agar tidak terjadi disabilitas dan mengurangi dampak penyakit.

Pemerintah perlu meningkatkan penggunaan teknologi informasi, seperti membangun aplikasi yang dapat memantau kesehatan seseorang dan memberikan informasi hidup sehat. Telemedisin juga dapat digunakan penderita untuk mendapatkan pelayanan yang cepat. Sudah banyak aplikasi yang memungkinkan hal tersebut. Namun, bila dilakukan aplikasi itu bukan diselenggarakan oleh rumah sakit, maka perlu dipikirkan bagaimana mengkonsolidasikan semua rekam medis sehingga pasien akan mendapatkan pengobatan yang terbaik. [*]

Ditulis Oleh: 

Dr. Untung Suseno Sutarjo, M. Kes.

Analis Kebijakan Ahli Utama Kementerian Kesehatan


Index ePaper Download PDF ePaper