Tekan Angka Konsumsi Rokok dengan Kelas Berhenti Merokok
Terobosan - 113 view


Tingginya angka konsumsi rokok di Kalimantan Selatan menginspirasi dr. Adi Huspiansyah (salah seorang dokter di Puskesmas Guntung, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan) membuat Kelas Berhenti Merokok (Kabar Baru).

Pria yang akrab disapa Adi ini menjelaskan, Kelas Berhenti Merokok ia buat karena melihat hasil survei Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga pada tahun 2017 tidak mencapai target, hanya 33%, karena poin tidak merokok di dalam rumah pada survei tersebut tergolong rendah yaitu sebesar 27,38%. Hal tersebut membuatnya memutar otak agar menemukan cara yang ampuh untuk menekan angka perokok aktif.

Sebelum membuat Kelas Berhenti Merokok, Adi mengaku kalau ia dan timnya sempat memiliki klinik berhenti merokok, tapi klinik tersebut sepi.

"Makanya kita bikin inovasi baru, kita jemput bola, kita ke desa dengan pendekatan lebih kepada kekeluargaan," ungkapnya.

Inovasi yang mulai berjalan pada Februari 2018 ini merupakan gerakan aktif untuk menekan para perokok aktif dengan melibatkan perokok itu sendiri.

Program Kelas Berhenti Merokok bertujuan untuk memberikan penyuluhan dan pengawasan yang berkesinambungan terhadap perokok aktif. Selain itu, inovasi ini juga bertujuan untuk membentuk kelompok yang saling mendukung untuk berhenti merokok.

Adi menyadari program ini tak bisa berjalan optimal tanpa dukungan dari keluarga perokok. Dengan demikian, selain perokok itu sendiri, Kelas Berhenti Merokok juga menyasar keluarga perokok (sebagai perokok pasif).

 

Mandiri

Kelas Berhenti Merokok dilaksanakan secara mandiri di Desa Padang Luar pada 2018 dan Desa Pimping pada tahun 2019.

Dalam menjalankan program ini, Adi juga melibatkan lintas program dan lintas sektor. Misalnya kepala Puskesmas, pemegang program promosi kesehatan, rekan dokter, perawat dan bidan desa, hingga kepala dan aparat desa.

Adi menyebut mekanisme pelaksanaan Kegiatan Kelas Berhenti Merokok dimulai dengan mengumpulkan para perokok pada pertemuan kelas yang berisi 20 sampai 30 orang. Selanjutnya, di dalam kelas ini akan diisi dengan diskusi dan terapi.

“Kegiatan ini dilaksanakan satu hari per 2 bulan dengan durasi 4 jam setiap pertemuan,” ujar Adi.

Adi menguraikan, ada tahapan-tahapan yang dilakukan setiap bulan, yaitu: perkenalan, penyuluhan bahaya merokok, pendapat ulama tentang merokok, pendekatan berhenti merokok melalui metode penundaan dan pengurangan, terapi berhenti merokok dengan metode totok dan hipnoterapi, dan evaluasi.

Berhasil

Perlahan tapi pasti, usaha Adi mulai menunjukkan keberhasilan. Menurutnya, pada tahun 2018, setelah kegiatan Kelas Berhenti Merokok berjalan beberapa bulan, terjadi pengurangan konsumsi rokok sekitar 60%, dari 25% peserta Kelas Berhenti Merokok.

Berkat capaiannya ini, pada November 2019 Adi bersama empat rekan tenaga medis lainnya berkesempatan mengikuti kompetisi Tenaga Kesehatan Teladan tingkat nasional mewakili Provinsi Kalimantan Selatan.

Namun, tak puas sampai di situ, Adi berharap inovasi Kelas Berhenti Merokok bisa terus berjalan dan efektif mengurangi konsumen rokok.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan dr. HM. Muslim mengungkapkan langkah yang ditempuh Adi dengan inovasi tersebut sangat membantu dalam mendukung program kesehatan di daerah. [*]

Penulis             : Faradina Ayu


Index ePaper Download PDF ePaper