Tetap Sibuk di Wisma Atlet
Media Utama - 148 view


Tak ada yang berubah dari kegiatan para tenaga kesehatan dan relawan di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, selama bulan Ramadan. Mereka tetap sibuk bekerja melayani para pasien yang keluar-masuk rumah sakit. Sebagian dari mereka sudah pernah berpuasa di tengah pandemi COVID-19 pada tahun lalu.

Sunarto dan Nida Fadhillah, misalnya, sudah mengalami dua kali Ramadan di gedung itu. Sunarto adalah ahli teknologi laboratorium medis dan koordinator laboratorium pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) dan patologi klinik. Nida adalah perawat yang bertanggung jawab di high care unit (HCU) dan unit perawatan intensif (ICU) di Lantai 3 Tower 6 Wisma Atlet.

Wisma Atlet, yang dirancang sebagai tempat menginap para tamu pada perhelatan Asian Games 2018, diubah menjadi rumah sakit lapangan pada 23 Maret 2020. Gedung itu berfungsi sebagai rumah sakit karantina sehingga seluruh fasilitas di dalamnya termasuk dalam zonasi kekarantinaan dan dinyatakan sebagai zona kuning. Akses ke wilayah rumah sakit ini dibatasi dengan ketat. Sejak beroperasi hingga 16 April 2021, rumah sakit ini sudah melayani 79.554 pasien.

Sunarto dan Nida menilai bahwa manajemen waktu saat bekerja di tengah Ramadan tahun ini jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu. “Sekarang sudah mulai tertata untuk pengambilan alat pelindung diri, sudah ada jamnya, tidak antre, dan (waktunya) tidak bertabrakan dengan buka puasa atau pun sahur,” kata Nida.

Mereka juga punya lebih banyak kesempatan untuk sahur, berbuka puasa, dan beribadah. “Tidak seperti tahun lalu, (kami) tidak bisa melakukan salat tarawih. Di sini sekarang alhamdulillah melonggarkan waktu untuk salat tarawih. Jadi, teman-teman yang tidak jaga (malam) bisa salat tarawih dan kadang ada juga yang ikut tadarus (Al-Quran),” kata Sunarto.

Sedikit perbedaan dari tahun lalu, kata Sunarto, hanya pada aktivitas fisik. Bila orang biasanya jogging atau olahraga sore, sekarang cukup jalan santai. "Kebanyakan malah memilih istirahat," kata Sunarto.

Dibanding tahun lalu, hanya pengaturan giliran kerja yang berubah sehingga tidak mengganggu waktu sahur dan beribadah. "Jadwal shift-nya sama, cuma yang membedakan itu jamnya," kata Nida.

"Saya bertugas di unit rekam medis. Dulu shift pagi, misalnya, dari pukul 6 pagi sampai 2 siang, sekarang menjadi pukul 3 pagi sampai 11 siang,"  kata Akhlam Rindu Ardia, ketua tim rekam medis yang bertugas di instalasi gawat darurat.

Hari libur adalah kesempatan berharga bagi para relawan untuk mengembangkan potensinya masing-masing, meskipun kegiatannya kebanyakan tetap dilakukan di lingkungan rumah sakit tersebut. Ini karena untuk mendapatkan izin keluar, mereka harus melewati prosedur yang ketat.

Para relawan juga harus mengatur waktunya untuk menyelesaikan urusan pribadi masing-masing. Sunarto, misalnya, sedang menyelesaikan pendidikan magister jurusan biomedis di Universitas Hasanuddin, Makassar. "Sambil kuliah secara virtual, tugas-tugas dan konsultasi juga lewat email dan WhatsApp," kata dia.

Adapun Rindu sedang mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi. "Saya mau ambil sarjana kesehatan masyarakat dan magister kesehatan karena memang cita-cita saya menjadi dosen," kata dia.

Masa paling berat yang dialami para relawan justru pada saat menjelang akhir tahun 2020 sampai awal 2021 ketika jumlah pasien yang dirawat di sana mencapai hampir 6.000 orang. Setiap pasien yang akan dirawat di sana harus melewati proses pemeriksaan di instalasi gawat darurat. Mereka yang bertugas di instalasi ini cukup kewalahan dengan banjir pasien baru. Bahkan, mereka kadang harus melayani 200 pasien yang masuk dalam waktu bersamaan. "Totalnya sampai 400-500 pasien masuk per hari. Kami baru datang saja, instalasi sudah penuh semua sampai ada pasien yang berdiri menunggu dan karena antre juga," kata Rindu.

Petugas laboratorium seperti Sunarto juga menjadi sibuk. Dalam sehari timnya harus menangani seribu sampel untuk pemeriksaan PCR. "Bahkan saya pernah lembur empat hari penuh karena kami harus melakukan proses ekstraksi, mixing dan sebagainya. Bahkan, banyak personil yang kena (positif COVID-19), jadi kami yang di lapangan harus mengerjakan pemeriksaan sampelnya. Harus selesai, tidak boleh tidak," kata Sunarto.

Persinggungan mereka dengan pasien setiap hari membuat mereka rentan terpapar COVID-19. Rindu, misalnya, pernah terinfeksi dan harus menjalankan isolasi mandiri di Tower 7 Wisma Atlet selama 16 hari. "Pada 12 Oktober, setelah tes usap massal saya dinyatakan positif dan dirujuk untuk menjalankan isolasi mandiri. Setelah tes usap kedua saya dinyatakan negatif. Alhamdulillah," kata Rindu.

Bagi mereka, tak ada harapan lain kecuali bahwa pandemi ini segera berakhir sehingga mereka semua bisa berkumpul kembali bersama keluarga dan sanak-saudara. "Mudah-mudahan rekan-rekan dan masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan dan tetap berpikir positif, semangat selalu, yakin bahwa wabah ini akan segera berakhir karena karena doa itu yang paling utama,” kata Nida. [*] 

Penulis: Nani Indriana


Index ePaper Download PDF ePaper