Tingkatkan Kualitas Hidup ODGJ Melalui “Bagaspati Among Jiwo”
Terobosan - 211 view


Meski Indonesia sudah mencanangkan “Indonesia Bebas Pasung” di tahun 2014, nyatanya kasus pasung untuk Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) masih terus terjadi dan ditemukan. Di tahun 2018, secara nasional terdapat 4.458 kasus pasung yang ditemukan, di mana sebanyak 325 kasus pasung terjadi di Provinsi Jawa Tengah. 

Padahal, pemasungan bertentangan dengan amanah Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 khususnya pasal 28H yang menyebutkan ODGJ memiliki hak dasar yang sama seperti masyarakat lainnya. Hal itu secara lugas disampaikan Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof. Dr. Soerojo Magelang (RSJ Soerojo Magelang) , dr. Eniarti, M.Sc., Sp.KJ., MMR., saat ditemui oleh Tim Mediakom.

Mengacu data di atas, dr. Eni belum sepenuhnya yakin jika data pasung yang tercatat sudah menggambarkan keseluruhan kasus pasung di Jawa Tengah. Apalagi persepsi masyarakat terhadap kasus pasung juga masih berbeda beda. “Persepsi masyarakat kalau pasien pasung artinya diikat, dirantai, atau dipasangkan rangka kayu pada anggota tubuh. Namun bukan hanya itu, proses pengurungan yang dilakukan bertahun-tahun juga termasuk tindakan pasung,” dr. Eni menjelaskan.

Untuk mempermudah penemuan, pelaporan, dan penanganan kasus gangguan jiwa di masyarakat, terutama kasus pasung dan kegawatdaruratan psikiatri, sejak Juli 2019, RSJ Soerojo Magelang, meluncurkan inovasi “Aplikasi Barisan Gasak Pasung Sejati (Bagaspati) Among Jiwo”. Aplikasi ini dapat diakses melalui situs https://rsjsoerojo.co.id/

Masyarakat yang melaporkan adanya kegawatdaruratan psikiatri akan ditindaklanjuti Tim Bagaspati Among Jiwo. Sampai November 2019, sebanyak 58 kasus telah berhasil ditangani yang terdiri dari 35 kasus pasung dan 23 kasus gawat darurat psikiatri. Daerah yang telah memanfaatkan layanan ini meliputi Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Semarang. 

“Keseluruhan pasien gangguan jiwa tersebut dilayani dengan pembiayaan dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Namun, kalau ada pasien yang kami evakuasi tidak punya jaminan kesehatan, kami Lillahi Ta’ala (dilakukan sebagai ibadah),” jelas dr.Eni.

Tidak Bergerak Sendiri

Dia menerangkan, tantangan dalam menangani pasien ODGJ tidak hanya pasien dirawat sampai sembuh, tapi juga bagaimana meningkatkan kualitas hidup mereka. Dengan begitu, setelah sembuh, ODGJ dapat mandiri dan produktif. “Melalui “Bagaspati Among Jiwo” ini, pasien ODGJ ditemukan, dibebaskan, diobati, serta direhabilitasitasi untuk mengembalikan fungsi dan peran ODGJ dengan melibatkan kemitraan,” urai dr. Eni.

Sebenarnya, jelas dr. Eni, fokus pelayanan di Rumah Sakit (RS) seharusnya pada tahap kuratif atau penyembuhan. Dia mengistilahkan, “Setelah keluar dari pentol seharusnya sudah bukan urusan RSJ lagi, melainkan menjadi tanggung jawab Dinas Sosial.”

Tetapi dalam praktiknya, Dinas Sosial setempat tidak siap. Sehingga pihak RSJ Soerojo Magelang meminta kepada Pemerintah Daerah (Pemda) untuk menghidupkan Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) di daerah. Tim terdiri dari Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, RS, Kepolisian, Koramil, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan sebagainya. 

Mediakom berkesempatan untuk ikut bersama TPKJM dalam proses pembebasan salah satu pasien pasung yang berada di wilayah kerja Pusat Kesehatan Masyarakat (Pukesmas) Salam, Dusun Gedolon, Desa Sirahan, Magelang. Tim dari RSJ Soerojo Magelang bergerak menuju Puskesmas Salam sebagai titik pertemuan. 

Setelah dilakukan koordinasi dan brief singkat, tim bergerak menuju lokasi tempat ODGJ tinggal. Tim memastikan bahwa data dan dokumen yang dibutuhkan dilengkapi oleh petugas Dinas Sosial dan pendamping, sementara petugas RSJ memandikan dan menyiapkan pasien untuk dibawa ke RS agar mendapatkan pengobatan dan perawatan lebih lanjut.

Peningkatan Kualitas Hidup 

Pasien yang baru masuk RSJ Soerojo Magelang akan dirawat inap di Bangsal Tenang. Di mana pasien akan diberi terapi obat, dipenuhi kebutuhan dasarnya, serta dilakukan bimbingan perawatan diri. “Ketika pasien datang, dicukur rambutnya, kalau sakit kulit diobati, kalau anemia diberikan transfusi darah, kalau kaki melengkung dilakukan rehab, dan sebagainya,” papar dr. Eni.

Setelah pasien tenang, selanjutnya dilakukan penilaian/assesment oleh tim yang terdiri dari dokter, psikiater, psikolog, dan keperawatan. Pasien dikelompokkan menjadi kelompok mampu latih, mampu didik, dan tidak mampu latih dan didik. Pasien ODGJ yang mampu latih dan mampu didik naik level ke tahap okupasi terapi dan vokasional terapi melalui Instalasi Rehabilitasi Psikososial. Pada tahap ini pasien diberikan berbagai suplemen terapi berupa terapi kesenian dan terapi kerja. 

“Pasien yang telah dinyatakan secara medis dapat berobat jalan, dapat mengakses pelatihan kerja RSJ melalui program layanan One Day Care. Sebagai kelanjutan fungsi layanan kesehatan jiwa lanjutan setelah rawat inap. Tujuan utama menyiapkan pasien pascarawatinap sehingga dapat mandiri dan berdikari saat kembali ke masyarakat,” dr. Eni menjelaskan. 

One Day Care memberikan keterampilan sosial, meliputi keterampilan menjahit, tata busana, tata boga, perbengkelan, pertukangan, pertanian, perikanan, hingga keterampilan sosial. One Day Care dilaksanakan 2 kali seminggu, setiap Kamis dan Jumat. Sepanjang 2019 saja, terdapat 1.569 kunjungan One Day Care. Dari jumlah tersebut sebanyak 49 orang sudah dapat bekerja sendiri maupun bekerja pada orang lain. “Dengan bekal kemampuan wirausaha, diharapkan mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup yang mandiri dan menjadi masyarakat yang sehat dan produktif,” tutup dr. Eni.

Penulis: Nani Indriana

Editor: Sopia Siregar

Dokumentasi:

  1. Saat Wawancara
  2. Pembebasan Pasung
  3. Rehab Psikososial yang ada aktivitas (tunggu kiriman imron)

 


Index ePaper Download PDF ePaper