Upaya KKP Gorontalo Cegah Penyebaran Covid-19
Potret - 89 view


Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Gorontalo termasuk dalam kelompok kelas III, di mana ada  5 wilayah kerja dan 1 pos yang berada di bawah komando kepala kantor yang mengurus Bidang Pengendalian Karantina dan Surveilans, Epidemiologi dan Bidang Pengendalian Risiko Lingkungan dan Kesehatan dan Lintas Wilayah.

Tugas tersebut diimplementasikan dengan penguatan sistem cegah tangkal penyakit menular dan penyakit potensial wabah, peningkatan surveilans penyakit dan faktor risiko, serta sistem kewaspadaan dini (SKD), pengendalian risiko dan dampak kesehatan lingkungan, dan pembinaan jejaring kerja dan kemitraan.

Hal tersebut membuat KKP Gorontalo memiliki  peran penting dalam mengendalikan Covid-19.

“Selalu berkoordinasi gugus tugas di pintu masuk bandar udara dan pelabuhan laut. Bekerja sama dengan stake holder dalam pengendalian Covid-19 di Provinsi Gorontalo, termasuk melakukan deteksi dini pelaku perjalanan yang diduga sakit,” kata Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Gorontalo, dr. Nurhayati Lahay.

KKP juga melaksanakan wawancara dan anamesis bagi pelaku perjalanan yang  sakit untuk memastikan kemungkinan adanya gejala Covid-19 di ruang pemeriksaan. Dilakukan pula pelaporan kasus-kasus pelaku perjalanan yang diduga terjangkit Covid-19 kepada PHEOC.

“KKP juga telah melakukan pemeriksaan RDT terhadap stake holder KKP Gorontalo dan melakukan rujuk untuk isolasi pelaku perjalanan yang diduga terjangkit Covid-19 ke tempat karantina di wilayah. Pasien dirujuk dengan menggunakan ambulans yang sesuai kriteria,” jelas Nurhayati.

KKP juga melakukan tindakan kekarantinaan kesehatan pada alat angkut dan barang yang diduga terpapar Covid-19. Hal ini diperkuat dengan pelaksanaan surveilans epidemiologi, deteksi dini, respons cepat kekarantinaan dan rujukan atau isolasi dalam rangka pengendalian Covid-19.

Untuk mendukung tugas-tugas KKP, Nurhayati mengakui mempunyai sejumlah personel yang cukup dan terlatih, sehingga mampu memperhatikan volume pelaku perjalanan dan kompleksitas kegiatan di pintu masuk negara.

Menurut dokter lulusan Fakultas kedokteran Universitas Samratulangi ini, untuk memonitor pintu masuk negara dengan jumlah pelaku perjalanan yang besar memerlukan personel minimal dua orang pegawai.

Nurhayati menjelaskan, bagaimana mengoptimalkan sumber daya dan SDM dalam melaksanakan tupoksi, denga berusaha mengikutkan SDM mengikuti pelatihan teknis yang menunjang tupoksi.

“Berusaha memberi pengarahan kepada petugas dalam melaksanakan kegiatan di lapangan. Selanjutnya memberdayakan stake holder dengan pelatihan yang berhubungan dengan bantuan dasar hidup di Wilayah Kerja”, jelas Nurhayati. [*]

Penulis: Prawito


Index ePaper Download PDF ePaper