Varian Delta Mengancam Anak Muda
Kilas Internasional - 110 view


Jumlah pasien COVID-19 dari kelompok anak muda meningkat. Ancaman serius dari varian delta dan bagi orang yang tidak divaksin. 

 

Pada awal kemunculan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), penyakit  ini kerap menjangkiti orang lanjut usia dan orang-orang yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Adapun mereka yang berusia muda yang terkena virus ini cenderung hanya mengalami gejala ringan, tidak sampai pada perburukan atau kematian.

Namun, kemunculan varian Delta disebut-sebut sebagai salah satu penyebab meningkatnya kasus orang usia muda terjangkit COVID-19 hingga harus mendapatkan perawatan intensif. Hal ini diungkapkan oleh pakar imunologi dari Australia, Peter Doherty. "Orang-orang muda berada pada risiko yang cukup besar dan berisiko lebih tinggi dibandingkan dengan varian Covid sebelumnya. Kaum muda seharusnya tidak berpikir bahwa mereka tidak berisiko atau bahkan berisiko minimal. Karena itu akan membunuh," kata penerima Hadiah Nobel di bidang kedokteran itu, sebagaimana dilansir Guardian pada 25 Juli lalu.

Data terbaru dari Kantor Statistik Nasional Inggris menunjukkan bahwa sebagian besar kasus COVID-19 di negeri itu merupakan kasus infeksi di kalangan orang dewasa muda. Jumlah kasus pada orang usia 16 hingga 24 tahun hampir enam kali lebih umum daripada pada kelompok usia 50 hingga 69 tahun.

John Hopkins Medicine di Amerika Serikat juga telah mengumumkan temuan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) bahwa selama musim panas tahun ini, lebih dari 20 persen kasus COVID-19 adalah orang-orang yang berusia di bawah 30 dan dipandang lebih mungkin menularkan virus daripada yang lain. Tren ini terus berlanjut hingga musim gugur.

Menurut John Hopkins, pekerjaan adalah salah satu alasan mengapa anak muda rentan terhadap infeksi virus corona. Banyak orang berusia 20 dan 30-an bekerja di bidang perawatan kesehatan, makanan, dan layanan penting seperti transportasi umum. Mereka juga bekerja di area yang berisiko tinggi terpapar virus, seperti bar dan restoran, sekolah, pusat penitipan anak, dan toko ritel. Mahasiswa dapat terkena wabah kampus dan menyebarkan virus ketika mereka kembali ke rumah.

Selain faktor di atas, anak muda yang terkena COVID-19 dan mendapat perawatan intensif pada umumnya terjadi pada mereka yang belum mendapat vaksin COVID-19. "Kami melihat pasien berusia 30-an atau bahkan 20-an yang sehat dan tidak memiliki masalah medis lain di unit perawatan intensif (ICU). Sebagai dokter ICU saya mohon Anda untuk memiliki vaksin," ujar dokter senior Samantha Batt-Rawden, seperti dikutip Guardian.

Berdasarkan laporan CDC, tingkat vaksinasi di kalangan orang muda lebih rendah daripada di antara orang Amerika yang lebih tua. Kurang dari setengah penduduk Negeri Abang Sam yang berusia 18 hingga 24 tahun dan 25 hingga 39 tahun yang telah divaksin dua kali. Jumlahnya bahkan lebih rendah daripada anak-anak berusia 12 hingga 18 tahun.

Thomas Dobbs, dokter di Mississippi, menyatakan, tujuh anak di daerahnya telah dirawat di ruang perawatan intensif rumah sakit karena virus corona. Menurutnya, sebagian besar mereka yang harus dirawat inap dan akhirnya meninggal adalah orang-orang yang tidak divaksin.

Dana Hawkinson, dokter penyakit menular di University of Kansas Health System, mengaku melihat peningkatan jumlah pasien anak muda yang sehat yang harus dirawat inap. "Kami melihat pasien berusia 20-an dan 30-an yang dinyatakan sehat yang datang karena gejala yang memburuk hari ini di rumah sakit, di ICU, yang membutuhkan ventilator dan dukungan oksigen tinggi," katanya kepada NBC. "Sekali lagi, ini karena mereka tidak divaksin. Ini benar-benar dapat dicegah jika Anda divaksin."

Varian Delta

Varian delta kini telah menyebar dengan cepat di seluruh wilayah Amerika. Hal ini sebenarnya sudah diperingatkan oleh pakar penyakit menular Anthony Fauci, yang menyebut varian tersebut sebagai "ancaman terbesar". Sementara itu, mantan komisaris Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA), Scott Gottlieb, mengatakan, "yang terburuk belum datang" dari varian delta.

"Varian delta akan menyebar ke seluruh negeri selama Agustus dan September, mungkin hingga Oktober. Itulah yang ditunjukkan oleh pemodelan. Itulah yang kami harapkan bahwa puncak epidemi ini benar-benar akan terjadi sekitar akhir tahun. September, musim kembali ke sekolah," kata Gottlieb kepada NBC.

Presiden Amerika Joe Biden mendesak warga Amerika untuk mendapatkan vaksinasi secepat mungkin karena varian delta, terutama bagi kaum muda, yang menurutnya lebih berisiko. "Datanya jelas: Jika Anda tidak divaksin, Anda berisiko sakit parah atau sekarat atau menyebarkannya," kata Biden dalam konferensi pers Gedung Putih pada bulan lalu. "Ini adalah varian yang lebih mudah menular, berpotensi lebih mematikan, dan sangat berbahaya bagi kaum muda."

Dampak COVID-19, khususnya varian delta, pada kaum muda juga semakin mengkhawatirkan di negara lain. Sebagaimana dilaporkan oleh Guardian, Belanda memperketat lagi pembatasan sosial di bar, restoran, dan klub malam setelah kasus baru meningkat tujuh kali lipat. [*]


Index ePaper Download PDF ePaper