Maret 2019Ruang Jiwa

Manajemen Stres di Lingkungan Kerja

Stres, tak dapat dihindari, apalagi dihilangkan dari diri manusia. Ia akan selalu setia bersama manusia yang masih normal. Tak peduli kaya atau miskin, pejabat atau rakyat biasa, ASN ataukah pegawai swasta, bahkan tokoh agama atau tokoh negara sekalipun. Mereka dengan berbagai dinamika kehidupan pasti akan tetap mengalami yang namanya stres, hanya yang membedakan bagaimana respon kita terhadap stres, tepat atau tidak. Bila tepat bermanfaat, bila salah akan mendatangkan kerugian.

Stres itu netral. Ibarat pisau juga netral. Ia akan memberi manfaat bagi manusia dengan berbagai cara. Dia dapat untuk memotong, membelah, mengelupas, menyembelih binatang dan masih banyak lagi kegunaanya yang bermanfaat bagi manusia. Tapi, disisi lain pisau juga dapat membahayakan manusia, bila salah dalam penggunaannya atau disalahgunakan oleh mereka yang tak bertanggung jawab.

Seperti halnya juga kaya atau miskin, itu juga netral. Miskin tidak selalu buruk, kaya pasti baik, atau sebaliknya, belum tentu. Kaya atau miskin sama, dapat menyebabkan stres bagi pelakunya. Semua bergantung bagaimana cara menyikapinya. Stresnya orang miskin, bila tepat penyikapannya akan mendorong dirinya menjadi lebih baik, lebih kuat dan tahan terhadap kesulitan, kesempitan dan tak mudah ngeluh bergaya cengeng.

Sebaliknya, orang kaya, bila tak dapat menyikapi dengan cara yang efektif, seperti boros, foya-foya, dalam waktu tak terlalu lama, pasti akan segera terpuruk. Tapi, bila dapat menyikapi dengan baik dan efektif, akan produktif dan luar biasa dampak kebaikannya. Bukan hanya untuk diri dan keluarga, tapi dapat meluas kepada masyarakat, bangsa dan negara. Tapi, kalau penyikapannya salah, tak dikelola dengan baik akan merugikan dan membahayakan diri dan orang lain.

Tempat kerja, pekerjaan, keduanya dapat menyebabkan stres. Mulai dari input-proses-output, semua dapat menjadi penyebab stres, kalau salah dalam menyikapinya. Jadi, tergantung bagaimana menyikapinya. Sebab itu, kita harus mengetahui kemampuan diri, sehingga tak memberatkan. Kita harus bekerja sesuai dengan kemampuan kita. Kalau kekuatan maksimal 100 kg, jangan paksakan melebihi kapasitas.

Sebab itu, dalam dunia kerja, sangat penting penerapan penempatan tenaga kerja yang sesuai dengan pekerjaan. Memastikan seseorang bekerja sesuai dengan pengetahuan, kemampuan dan keterampilannya. Tentu, dalam seleksi tenaga kerja harus mencari SDM yang sesuai dengan kebutuhan tenaga yang dibutuhkan.

Beberapa penyebab terbentuknya stres di dunia kerja, sekurangnya ada 2 hal, yakni faktor ekternal dan internal. Faktor dari luar berupa kepemimpinan. Bagaimana kemapuan mengikuti arahan pimpinan dalam mencapai target yang telah ditetapkan. Memetakan target dan solusi ,cara yang harus dilakukan, untuk mencapai tujuan. Sedang faktor internal berupa pola asuh orang tua sebelumnya. Bagaimana mereka mendapat pola asuhnya. Mungkin ada yang diasuh orang tua, saudara atau kakek dan neneknya.

Pola asuh kepada mereka akan mempengaruhi sikap mentalnya. Ada yang kemudian mereka bermental kuat, kokoh, bersahaja, tidak mudah menyerah. Selalu berpikir positif, nyaman, damai dan produktif dan ada pula yang sebaliknya, distres. Ia bersikap malas, setengah-setengah, ragu, merasa menjadi beban, komunikasi macet dan interaksi buruk dan terjadi hambatan. Bahkan tak menutup kemungkinan terjadi emosi, kecemburuan, suasana kerja tidak nyaman, agresif, mudah marah, suka memukul dan bunuh diri.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button