Desember 2019Ruang Jiwa

Karena Jiwa Juga Membutuhkan Liburan*

Masyarakat dunia kerap mengidentikkan pengujung tahun sebagai waktu liburan yang harus mereka manfaatkan. Ini adalah satu hal menarik dalam siklus aktivitas manusia, karena baik dalam dunia pendidikan maupun pekerjaan, manusia memerlukan fase liburan.

Liburan dalam siklus kehidupan manusia adalah kebutuhan yang diperlukan tidak hanya untuk memulihkan fisik, namun juga jiwa mereka. Jiwa membutuhkan liburan untuk mengaktifkan suasana kebahagian yang menjadi pengembangan zat-zat neourotransmiter, neurotonin, endorfin.

Zat-zat tersebut tidak muncul saat fase aktif manusia karena adrenalin dipakai oleh neurotransmitter lain yang dibutuhkan agar manusia bisa terjaga dan aktif. Hormon endorfin dan serotonin hanya muncul pada saat manusia dalam kondisi bahagia, damai, dan rileks yang diperoleh salah satunya saat menikmati liburan. Energi pemulihan itu akan memberi kinerja luar biasa saat kembali dipakai beraktivitas. 

Hal ini yang harus dipahami oleh dunia kerja. Dalam sebuah literatur, diketahui sebuah perusahaan yang sudah mapan mewajibkan karyawan mereka untuk cuti bahkan mendapat reward saat mereka mengambil cuti. Cuti dapat mereka ambil untuk liburan, rekreasi, atau ibadah. 

Hal  itu karena ada setidaknya 2 manfaat dari liburan. Pertama, bagi individu, cuti atau liburan akan memberi mereka kondisi yang lebih baik. Kedua, terkait alur pekerjaan, cutinya seorang karyawan akan membuat pekerjaan yang dia lakukan tidak hanya one man show, tapi bisa dilimpahkan atau dikerjakan oleh karyawan lain. Rutinitas kerja yang tergantung hanya pada 1 orang akan menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat. 

Dengan mengambil cuti, karyawan itu meninggalkan dan mengalihkan pekerjaannya ke karyawan lain dan membuat sistem pekerjaan berjalan. Hal itu juga menghindarkan adanya kecemburuan atau kekhawatiran atas rahasia yang hanya diketahui oleh 1 orang. Dengan memberi tanggung jawab pekerjaan terhadap beberapa karyawan, maka alur pekerjaan menjadi terbuka, transparan, akuntabel, dan sehat. 

Liburan Menyehatkan

Tidak dapat dipungkiri selama ini ada anggapan bahwa liburan harus mahal atau membutuhkan biaya besar. Padahal tidak seperti itu. Konsep liburan adalah kebahagian, kenyamanan, kedamaian, dan ketenangan yang sifatnya sangat individual. 

Menelisik lebih jauh, konsep liburan yang paling dekat dan membuat kita nyaman adalah melakukan hobi kita. Misal, jika hobi membaca, bisa memanfaatkan waktu libur untuk ke toko buku. Orang yang hobi olahraga bisa mengoptimalkan kegiatan olahraganya atau ikut komunitas olahraga yang sesuai. Begitu juga dengan hobi-hobi yang lain. Karena itu, jangan mengartikan liburan harus selalu pergi ke tempat yang jauh dan membutuhkan biaya.   

Selain menyalurkan hobi, liburan juga sebaiknya dapat membangun interaksi dengan keluarga yang selama ini terputus rutinitas masing-masing. Sehingga liburan juga harus diartikan sebagai konsolidasi bagi setiap anggota keluarga dengan manyamakan aktivitas bersama sehingga tercipta interaksi yang lebih baik.

Teknologi bisa digunakan, tapi sebaiknya teknologi kita manfaatkan untuk meningkatkan kualitas kebersamaan dan interaksi. Misalnya bersama-sama melakukan permainan yang bersifat kelompok sehingga dapat membangun kedekatan anggota keluarga. 

Catatan kali ini juga mengingatkan selain bertujuan mengaktifkan kebahagian, ketenangan, dan konsolidasi keluarga, liburan juga harus semakin mengokohkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Liburan harus semakin meningkatkan hubungan vetikal dengan Sang Maha Kuasa sesuai agama masing-masing.

Karena itu liburan tidak sekadar kegiatan yang bersifat duniawi tapi mampu menghidupkan nilai-nilai spiritual dan religi sesuai agama masing-masing. Contoh, bersama-sama hadir dalam pengajian, ke gereja, ke pura, dan sebagainya. Rekreasi religi juga dapat dilakukan dengan berziarah ke makam para wali atau tokoh pejuang untuk membangkitkan energi spiritual religi. Degan ziarah kita belajar tentang makna hidup dan pengingat kita pun akan berakhir seperti itu, apakah yang sudah kita persiapkan? 

Ketika kembali dari liburan, diharapkan muncul gagasan, kreativitas, dan ide yang mampu meningkatkan kinerja karyawan. Jadi liburan tidak mematikan aktivitas, tapi mampu mencerahkan dan memberikan suatu gagasan baru.**

*Sebagaimana disampaikan Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA Kemenkes RI, kepada Didit dari Mediakom.

Editor: Sopia Siregar

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button