Juli 2020Serba Serbi

Asal-Usul Tujuh Hari Dalam Seminggu

Mengapa ada tujuh hari dalam satu minggu? Siapa yang memeloporinya, dan bagaimana asal usulnya?

Penasaran? Mediakom merangkum beberapa sumber untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Penjelasan terkait waktu biasanya berhubungan dengan pergerakan benda-benda langit seperti planet, bulan, dan bintang. Seperti saat duduk di bangku sekolah dasar, kita belajar bahwa dalam satu tahun terdiri dari 365 hari atau 366 hari pada tahun kabisat. Perhitungan waktu ini didapat berdasarkan pada waktu bumi berevolusi mengelilingi Matahari. Waktu satu tahun berdasar bumi mengelilingi Matahari ini juga dikenal sebagai Kalender Matahari, Kalender Solar, atau Kalender Surya.

Kalau penentuan penghitungan hari dalam satu tahun berdasarkan revolusi Bumi mengelilingi Matahari, penentuan waktu dalam satu minggu dan satu bulan memiliki penjelasan lain. Hal ini karena sebenarnya fase Bulan tidak bertepatan dengan Kalender Matahari.

Dilansir discovermagazine, siklus Bulan adalah 27 hari dan tujuh jam, sehingga dalam satu tahun Kalender Matahari ada 13 fase Bulan. Ternyata, asal mula hari dan minggu memang berhubungan dengan penggunaan Kalender Lunar atau Kalender Bulan.

Penetapan satu minggu terdiri dari tujuh hari dipengaruhi oleh peradaban awal di Babilonia. Bangsa Babilonia adalah pengamat yang lihai dan penafsir langit. Alasan mereka mengadopsi angka tujuh adalah karena mereka mengamati tujuh benda langit, yaitu Matahari, Bulan, Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Dengan demikian, penetapan tujuh hari dalam satu minggu didasarkan karena saat itu mereka mengamati tujuh benda langit tersebut. 

Oleh karena itu, angka tujuh menjadi angka yang penting bagi bangsa Babilonia.

Orang Babilonia membagi bulan mereka dalam Kalender Lunar menjadi minggu yang terdiri atas 7 hari, dengan hari terakhir adalah hari Minggu, yang memiliki signifikansi pada keagamaan tertentu. Mereka membagi satu bulan yang terdiri atas 28 hari menjadi empat sehingga hasilnya tujuh.

Sebenarnya, angka tujuh tidak terlalu cocok karena tidak bertepatan dengan tahun Matahari, atau bahkan Bulan, hal ini memang menciptakan beberapa inkonsistensi. Namun, peradaban Babilonia adalah budaya yang begitu dominan di Timur Dekat atau Asia Barat Daya, terutama pada abad ke-6 dan ke-7 Sebelum Masehi (SM). Dengan demikian, konsep waktu satu minggu terdiri atas 7 hari dan banyak dari gagasan waktu lainnya, seperti jam terdiri atas 60 menit, tetap ada.

Penetapan waktu satu minggu terdiri atas tujuh hari kemudian menyebar ke Timur Dekat. Selanjutnya, diadopsi oleh orang-orang Yahudi, yang telah menjadi tawanan orang Babilonia pada puncak kekuatan peradaban itu. Budaya-budaya lain di daerah sekitarnya juga mengikuti penentuan waktu tersebut, termasuk kerajaan Persia dan Yunani.

Berabad-abad kemudian, ketika Alexander Agung mulai menyebarkan budaya Yunani ke seluruh Timur Dekat sampai ke India, konsep tujuh hari dalam seminggu juga ikut menyebar. Para ahli berpendapat bahwa kemungkinan India juga memperkenalkan konsep ini ke China.

Akhirnya, setelah orang-orang Romawi mulai menaklukkan wilayah yang dipengaruhi oleh Alexander Agung, mereka juga bergeser ke konsep satu minggu tujuh hari ini. Setelah itu, pada tahun 321 M, Kaisar Constantine menetapkan secara resmi konsep tujuh hari dalam satu hari dan menjadikan hari Minggu sebagai hari libur umum.

Penamaan hari

Pada zaman Romawi Kuno, tepatnya saat Julius Caesar berkuasa, hari-hari diberi nama. Nama-nama hari itu ditetapkan berdasarkan Matahari, Bulan, dan nama lima planet. Pada saat itu, tata surya kita terdiri atas Matahari, lima planet, dan Bulan.

Melansir scienceabc, meskipun tradisi modern sering dibawa dari Yunani dan Romawi, nama hari-hari yang biasa digunakan di seluruh dunia tidak selalu berasal dari mereka, tapi bergantung pada bahasa yang kita gunakan. Nama-nama hari itu bisa berasal dari tradisi Romawi, Yunani, Norse, atau Jerman.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button