Juli 2020Media Utama

Jangan Remehkan Alergi

Menurut Wistiani dan Notoatmojo dalam penelitiannya pada 2011, terdapat empat cara masuk alergen (zat alergi atau substansi yang menjadi pencetus alergi).

Pertama, alergen yang masuk bersama komponen udara yang terhirup (inhalan); kedua, alergen dari makanan yang dikonsumsi lalu masuk ke saluran pencernaan (ingestan). Cara lainnya, alergen yang masuk ke tubuh melalui suntikan (parenteral), terakhir ada alergen yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa (kontaktan). 

Salah seorang pakar alergi dan penyakit imun, Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI, memberikan contoh alergen berdasarkan cara masuknya ke tubuh. Prof Iris menyebutkan alergen melalui inhalasi yakni tungau debu rumah, serpihan kulit kucing, dan spora jamur yang terhirup.

Sedangkan alergen ingestan itu yang dimakan, seperti susu, telur, kacang, ikan laut, dan obat oral. Berikutnya ada juga alergen parenteral/injectan yaitu yang disuntik, obat-obatan suntik seperti antibiotik atau penisilin. Satu lagi alergen kontaktan, prosesnya kontak langsung dengan kulit misalnya kosmetik atau perhiasan. 

“Jadi, sensitivitas seseorang terhadap suatu bahan yang ada di lingkungannya dan cara masuknya seperti tadi, bisa berbagai macam cara masuknya alergen ke dalam tubuh kita,” papar Iris.

Alergi pada dewasa

Alergi dapat terjadi pada siapa pun, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Pada kelompok anak-anak, ada yang disebut dengan alergi mars. Artinya perjalanan alergi terjadi secara alamiah.

Pada umumnya saat bayi, alergi terhadap makanan, terutama susu. Setelah meminum susu maka biasanya akan muncul eksim di lipatan-lipatan kulit. Alergi jenis ini akan dialami hingga usia balita, kemudian menjelma menjadi pilek bersin dan akan menghilang memasuki usia remaja. Kemudian setelah itu, saat dewasa, menjadi asma. 

“Ini yang diistilahkan trias atopic, ketiganya saling berhubungan antara eksim, pilek, lalu asma. Jadi secara alamiah akan berubah sendiri,” kata Iris. 

Namun, ada juga yang tidak alamiah. Pada orang dewasa dia sudah ada asma tetapi eksimnya tidak hilang. Menariknya, alergi pada golongan dewasa lebih banyak terjadi pada wanita.

Iris menilai hal ini terjadi karena lebih banyak faktor psikis pada wanita. Wanita yang asma lebih banyak psikisnya dibandingkan pria yang umumnya lebih cuek. Alergi itu sangat dipengaruhi dengan kondisi mental seseorang, sehingga ketika pikiran sedang tidak menentu atau mengalami stres, maka asma atau eksim yang pernah diidapnya bisa kambuh. 

Berbeda dengan pria yang lebih bisa tidak terlalu memikirkan banyak hal. Meskipun, ungkap Iris, ada juga beberapa pasien pria yang ternyata lebih sensitif dibandingkan dengan istrinya.

“Kebanyakan perempuan yang lebih moody, jadi kalau gitu asmanya kambuh, gatal-gatal kambuh. Jadi sebetulnya sama saja tidak ada yang lebih dominan, tidak seperti penyakit aoutoimun. Kalau penyakit autoimun kan lebih dominan pada perempuan karena hormonal, tetapi kalau alergi sama saja. Hanya kalau pada dewasa, asma lebih menonjol karena masalah psikisnya,” terangnya. 

Pernyataan Prof. Iris yang juga sebagai Ketua Perhimpunan Alergi-Imunologi Indonesia ini sejalan dengan temuan Riskesdas 2018.

Prevalensi asma, menurut hasil diagnosis dokter, kasus terbanyak terjadi pada usia dewasa, khususnya lanjut usia di atas 65 tahun (9,6%). Sementara berdasarkan jenis kelamin, pada perempuan sedikit lebih tinggi (2,5%) dibandingkan dengan laki-laki yang sebesar 2,3%.

Faktor kejiwaaan disinyalir menjadi penyebab lebih tingginya proporsi kejadian alergi pada perempuan dewasa. Dari pengalaman pribadi dan sesama sejawatnya, menangani pasien alergi dengan lebih banyak membuka kesempatan berkomunikasi dan memberikan dukungan moril agar pasien secara mandiri bisa mengendalikan emosi dirinya sendiri. 

“Pasien biasanya sama dokternya bisa curhat, habis itu dia lebih lega rasanya terus kita kasih supporting pada mereka, ayo berpikir positif. Kita seperti teman ngobrol juga. Kita mengimbau lama-lama dia bisa melakukan management of stress,” ujar guru besar FKUI ini. 

Manakala cara tersebut tidak berhasil dan diperlukan tindakan lain, baru akan dilakukan konsultasi ke psikolog atau psikiater. Selain itu, harus dilakukan edukasi kepada keluarga pasien agar bisa lebih mengerti kondisi kejiwaan anggota keluarganya yang alerginya tengah kambuh.

Dampak

Alergi seringkali berdampak pada sisi estetika penampilan diri dan terganggunya produktivitas seseorang dalam kesehariannya. Namun, banyak orang yang belum mengetahui bahwa ada akibat alergi yang lebih membahayakan nyawa, yakni yang disebut anafilaksis.

Anafilaksis yaitu kondisi di mana alergi mengancam nyawa. Biasanya, terang Iris, terjadi setelah disuntik obat atau sesudah memakan produk laut. Untuk itu biasanya tenaga kesehatan sudah harus mengantisipasi menyiapkan pereda reaksi kuat saat diberikan obat atau vaksin tertentu. 

Masyarakat memang harus mewaspadai alergi yang bisa menimpa siapa saja. Alergi tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa dikontrol. Caranya dengan mengontrol lingkungan yang menjadi faktor pencentus tidak ada di sekitar pengidap alergi.

“Sekali lagi, alergi dipengaruhi faktor genetik dan lingkungan. Lingkungan ini yang sangat mempengaruhi sehingga lingkungan ini harus diperbaiki. Oleh karena itu kita ada edukasi, pada pasien alergi kita ada edukasi mengenai lingkungannya bagaimana cara pencegahannya,” pesan Iris.

Sebagai langkah kuratif, terdapat beberapa terapi yang bisa diberikan untuk meringankan gejala dan menyembuhkan alergi. Iris menerangkan ada beberapa jenis anti-alergi yang bisa diresepkan seperti jenis obat anti-histamine, anti-alergi seperti cetirizine atau loratadine.

Jenis lainnya berbentuk spray/semprot atau yang mengandung steroid seperti kortikosteroid. Layanan kesehatan untuk alergi, khususnya asma, saat ini sudah banyak tersedia di fasilitas kesehatan dan sudah ditanggung oleh program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button