Juli 2020Ruang Jiwa

Mengenalkan Kebesaran Tuhan Kepada Anak Di Tengah Pandemi COVID-19

Penulis: Dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH, Direktur Pengendalian dan Pencegahan Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA Kemenkes 

Kesehatan anak harus menjadi perhatian, khususnya di masa pandemi COVID-19 saat ini. Bukan hanya karena mereka adalah darah daging kita, keturunan kita, tetapi juga merupakan generasi penerus bangsa yang tentunya sangat dibutuhkan untuk membangun masa depan negara.

Diprediksi saat Indonesia memasuki masa emas 100 tahun akan memiliki bonus demografi dengan jumlah anak-anak yang begitu besar. Hal ini menjadi modal Indonesia untuk memiliki banyak sumber daya manusia yang harus dibangun secara betul, bukan hanya kualitas fisik, tetapi juga mental dan spiritualnya. Jika di masa pandemi ini, kesehatan mereka luput dari perhatian tentu kuantitas mereka dapat berkurang dan apa yang kita harapkan saat memasuki masa Indonesia Emas tidak tercapai.

Tak sedikit dari kita yang mengira bahwa COVID-19 hanya menyerang orang dewasa dengan tingkat imunitas yang rendah. Padahal kenyataannya menurut data Gugus Tugas penanggulangan COVID-19 terdapat  8 % anak terdampak COVID-19 dari total masyarakat. Kemudian, terdapat 1,5 % anak yang dirawat dan ada pula yang meninggal karena terdampak. Angka tersebut tidak dapat hanya kita lihat secara kuantitatif, tapi harus melihat imbas dari sisi kualitas anak.

Bimbingan

Perhatikan ketika anak lahir ke dunia, semua orang memberi bantuan mulai dari dokter, perawat, ibu, ayah dan banyak pihak yang memberikan bantuan untuk mengeluarkannya dari alam rahim ke alam dunia yang tak pernah diketahui sebelumnya. Kemudian, anak mulai beradaptasi dengan seluruh respon lingkungan dan terus berkembang.

Dalam tema Hari Kesehatan Anak 2020 “Lindungi Diri Anak”, salah satu pesannya menggambarkan agar anak terlindung dari kesalahan untuk mendapat pemahaman tentang Ketuhanan. Sejak kapan anak telah mempunyai konsep Ketuhanan?

Sebagai umat Muslim, rujukannya dalam Al-Quran Surat  Al-A’raf ayat 179 yang berbunyi: “Ketika janin berumur 120 hari dalam kandungan, lalu Tuhan berfirman, apakah aku ini TuhanMu ? Ya betul,  Engkau Tuhanku dan aku menjadi saksi atas persaksian ini”. 

Janin yang berikrar ini bukan hanya janin yang berada dalam rahim seorang ibu muslim, tapi semua ibu, semua agama.

Saya yakin, informasi Ketuhanan ini juga ada dalam kitab Injil dan kitab agama lain, karena keterbatasan informasi, saya hanya menyitir yang ada dalam Al-Quran. Catatan kecil ini ingin menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk bertuhan. Kemudian tumbuh, berkembang dan beradaptasi melanjutkan ikrar Ketuhanan dalam alam nyata melalui bimbingan orang tua. 

Perdalam hakikat Ketuhanan

COVID-19 memang tak terlihat dengan mata kepala, tapi dampak buruknya sangat terasa dalam kehidupan nyata. Bukan hanya ukuran individu, negara bahkan seluruh dunia mengalami pandemik global. Saya ingin menekankan bahwa dengan fenomena COVID-19 ini mengingatkan kita untuk “Ayo lindungi anak!” Bahwa anak berhak mendapatkan kelanjutan akan Ketuhanan yang telah dipersaksikan sebelumnya. 

Nah, di sini menjadi tantangan para orang tua dan orang dewasa untuk menjelaskan fenomena COVID-19 dalam kerangka nilai Ketuhanan. Momentum COVID-19, dijadikan sarana mengenalkan Tuhan pada anak-anaknya. Dengan kata lain, semangat pencarian tentang Ketuhanan di tengah pandemi ini harus kita hidupkan. Betapa ketidakberdayaan teknologi dan pengetahuan menghadapi virus yang tak terlihat sehingga menghebohkan dunia, merusak tatanan kesehatan, ekonomi, pendidikan, transportasi, sosial dan budaya, serta politik. Semua mengalami perubahan.

Dalam kehidupan beragama pun terjadi perubahan, bukan secara makna namun lebih kepada pelaksanaannya yang menyesuaikan dengan kondisi pandemi saat ini. Seperti, umat Islam dalam melakukan shalat berjemaah, ibadah Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha serta ibadah Haji tak dapat diselenggarakan seperti biasanya. 

Ini harus menjadi perhatian dalam mengenalkan hakikat Ketuhanan yang harus diwariskan kepada generasi mendatang, anak-anak dan cucu-cucu berikutnya, sehingga mereka nanti menjadi pribadi yang utuh dengan memiliki kesehatan secara fisik, spiritual dan mental yang kokoh.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button