Juli 2020Media Utama

Seputar Alergi Yang Perlu Diketahui

Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yang juga Ketua Divisi Alergi Imunologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD-KAI, alergi pada orang Indonesia dan alergi pada orang yang tinggal di luar negeri, khusunya mereka yang tinggal di negara 4 musim, memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut terletak pada alergennya yang merupakan zat pencetus alergi. 

Dikatakan Prof. Iris, zat pencetus alergi pada orang yang tinggal di luar negeri, khususnya yang memiliki 4 musim, biasanya berupa polen atau serbuk sari tanaman. Karena biasanya pada saat musim bunga polen-polen beterbangan.  

Sedangkan Indonesia hanya memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan, sehingga bunga tumbuh sepanjang tahun. Di Indonesia ada polen, tapi tidak sebanyak di negara 4 musim yang musim bunganya intens dalam satu waktu. 

“Di Indonesia polennya tidak terlalu mengganggu, kecuali orang yang betul-betul alergi polen seperti polen bunga akasia kemudian bunga alang-alang. Polennya berterbangan cuma sedikit-sedikit. Kalau di luar negeri dalam satu musim,” terang Prof. Iris.

Mayoritas

Lain halnya dengan mereka yang tinggal di negara 4 musim, alergi pada mayoritas orang Indonesia umumnya disebabkan oleh tungau debu rumah. Prof. Iris mengatakan, sebenarnya tungau debu rumah juga menjadi penyebab alergi di luar negeri, tapi yang membedakan di luar negeri selain alergen indoor, seperi tungau debu rumah, juga didominasi oleh alergen outdoor, seperti polen atau serbuk sari. 

Lebih lanjut, Prof Iris menjelaskan, alergi tungau debu rumah disebabkan oleh fesesnya yang mengandung protein. “Rata-rata (karena) proteinnya, tungau debu rumah juga proteinnya, kecoa juga proteinnya tetapi semua itu dari fesesnya dari kotoranya, sisa-sisa pencernaan, enzim protein yang ada disitu,” kata Prof. Iris.

Reaksi yang ditimbulkan akibat alergi tungau debu rumah antara lain asma, pilek alergi yang disebut trinitis alergi, dermatitis atopik yang juga disebut eksim alergi. “Jadi bisa menyerang kulit, hidung dan juga paru-paru,” terang Prof. Iris.

Obat

Obat yang diberikan kepada penderita alergi bermacam-macam, disesuaikan dengan jenis alerginya. Prof. Iris menjelaskan, untuk penderita pilek alergi diberikan antihistamine, anti-alergi seperti cetirizineloratadine. “Jadi obat-obat anti-alergi yang kita berikan,” katanya.

Kemudian untuk penderita asma diberikan obat semprot. “Ada yang bubuk, ada yang spray bentuknya, seperti itu. Kita berikan steroid sebagai obat anti-inflamasi peradangan, karena reaksi alergi merupakan suatu peradangan alergi, atau yang kita sebut inflamasi alergi,” terang Prof. Iris.

Selanjutnya, Prof. Iris mengungkapkan, biasanya pengobatan utamanya dengan steroid, karena steroid merupakan anti-inflamasi. Namun, steroid dalam bentuk tablet memiliki banyak efek samping, misalnya muka menjadi tembem, jerawatan, nafsu makan tinggi, tekanan darah naik, gula darah naik, dan tulang keropos 5-10 tahun yang akan datang, ini merupakan efek jangka panjang.

“Akhirnya sekarang sudah ada kortikosteroid yang dihirup atau inhaler atau disemprot ke mulut itu lebih efektif,” ujar Prof. Iris. 

Anafilaksis 

Anafilaksis merupakan alergi yang mengancam nyawa atau jiwa.

“Anafilaksis yaitu suatu kondisi di mana alergi itu mengancam nyawa, itu yang paling berbahaya. Itu yang paling kita takutkan, reaksi anafilaksis,” ungkap Prof. Iris.

Jika terjadi anafilaksis pada pasien, pengobatannya harus segera. “Jadi itu biasanya karena obat. Pada orang yang mau disuntik obat atau vitamin, vaksin pun bisa anafilaksis. Kita kalau mau memberikan suntikan pada seseoarang, harus ada anti-penawar di depan kita dan kita katakan kalau ada apa-apa harus segera kita kasih tahu,” jelas prof. Iris. 

Diungkapkannya lagi, gejala yang dialami seseorang ketika terindikasi anafilaksis bisa terjadi secara tiba-tiba. “Pengalamannya nggak ada, tiba-tiba ‘kok saya gelap ya, tangan saya dingin mulai sesak napas’, itu anafilaksis,” kata Prof. Iris.

Lebih lanjut ia menjelaskan, apabila terjadi keluhan demikian, pasien harus segera diberi oksigen dan suntikan adrenalin. “Biasanya (anafilaksis) terjadi habis suntik obat. Tapi kalau anafilaksis, kita sudah siap dengan penawarnya, segera suntik adrenalin akan cepat dia bangun lagi. Jadi bahaya juga alergi ini ya, jadi jangan dianggap enteng,” tegas Prof. Iris. [*]

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button