Media UtamaOktober 2021

Dengarkan Kecemasan Mereka

Anak-anak dapat mengalami stres karena pandemi COVID-19. Orang tua dan keluarga perlu mendengarkan kecemasan dan kekhawatiran mereka.

Pandemi COVID-19 berdampak besar pada psikologi anak.  Rasa takut, khawatir, dan bahkan kehilangan orang tua maupun keluarga dekat karena COVID-19 dapat mempengaruhi kesehatan jiwa anak. Masfuukhatur Rokhmah, M.Psi., psikolog klinis dan pengurus Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wilayah DKI Jakarta, menuturkan tentang salah seorang pasien anaknya. Sang anak melihat foto salah seorang dokter di layanan promosi vaksin dan mengira itu foto orang yang sudah meninggal karena COVID-19. “Di bulan Juni-Juli lalu, ia banyak menemukan foto orang meninggal sehingga menganggap COVID-19 sangat menyeramkan dan menjadi cemas dan ketakutan,” kata Masfuukhatur dalam acara Sehat Wicara di Radio Kesehatan pada 8 Oktober 2021.

Data Kementerian Sosial per 20 Juli 2021 mencatat 11.045 anak menjadi yatim piatu akibat pandemi. Kebijakan pemerintah selama pandemi juga mengubah rutinitas keseharian anak-anak. Mereka hanya bisa beraktivitas  di dalam rumah. Bermain hingga belajar pun dilakukan secara daring. Semua ini dilakukan untuk meminimalkan penularan COVID-19, mengingat anak merupakan salah satu lapisan masyarakat yang rentan terkena virus tersebut.

Perubahan aktivitas di masa pandemi inilah yang membuat kejiwaan anak-anak menjadi rentan. Fukha, demikian Masfuukhatur biasa disapa, menyatakan bahwa anak-anak juga dapat mengalami stres. Menurut Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, gejala stres pada anak dapat ditandai dengan tidak bersemangat, rewel, tidak mau sekolah, senang menyendiri, mengalami gangguan tidur, mengalami gangguan pencernaan, atau sakit sebab.

Anak-anak merasa bosan di rumah saja dan merasa pembelajaran yang dilakukan secara online membuat mereka tidak bisa berinteraksi dengan teman maupun guru. “Interaksi dengan teman itu memang tidak bisa tergantikan kecuali dengan tatap muka. Kalau mereka kontak dengan chat, media sosial, mereka tetap merasa nggak seperti tatap muka,” kata Fukha.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button