Kilas InternasionalOktober 2021

Doping di Dunia Olahraga

Ada beberapa jenis obat dan terapi yang tergolong sebagai doping sehingga dilarang digunakan dalam olahraga. Meningkatkan kinerja atlet tapi berisiko bagi kesehatan.

Indonesia akhirnya membawa pulang Piala Thomas setelah mengalahkan Cina dalam pertandingan bulu tangkis di Aarhus, Denmark, 17 Oktober lalu. Namun, bendera Merah Putih tidak berkibar ketika tim Indonesia menerima piala tersebut karena Indonesia mendapat sanksi dari Badan Antidoping Dunia (WADA). Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali, mengatakan, WADA memberikan teguran kepada Indonesia karena tidak menyerahkan sampel urin atlet untuk tes doping pada tahun 2020. Menurut Zainudin, sampel tak dapat diberikan karena sejak pandemi COVID-19, kegiatan-kegiatan olahraga berhenti secara total sehingga tidak ada sampel yang bisa diambil.

Lantas, apa itu doping pada olahraga? Menurut American College of Medical Toxicology (ACMT), istilah “doping” mengacu pada penggunaan obat-obatan terlarang, obat-obatan, atau perawatan oleh atlet dengan tujuan meningkatkan kinerja atletik. Kasus penggunaan doping pertama terjadi pada tahun 1904 ketika di perhelatan Olimpiade ada pelari yang disuntik dengan strychnine agar dapat berlari lebih cepat dan konon memberinya kekuatan untuk menyelesaikan balapan. Menurut ACMT, terlepas dari peningkatan kinerja yang terlihat pada atlet yang tak terhitung jumlahnya selama beberapa abad, juga tercatat bahwa para atlet sering menderita efek kesehatan yang merugikan dan bahkan kematian dini yang tampaknya terkait dengan praktik doping.

Pada 1967, Komite Olimpiade Internasional (IOC) melarang doping dan pada tahun 1999 IOC memimpin prakarsa pembentukan WADA. Kegiatan utama WADA meliputi pendidikan risiko kesehatan doping, penelitian ilmiah tentang praktik doping, pengembangan kemampuan anti-doping, dan pengembangan metode pengujian untuk deteksi doping.

Menurut Kode Anti-Doping Dunia, yang ditetapkan oleh WADA pada tahun 2008, suatu zat atau pengobatan termasuk doping jika memenuhi dua dari tiga kriteria, yakni meningkatkan kinerja, menimbulkan risiko bagi kesehatan atlet, dan bertentangan dengan semangat olahraga.

Menurut American Medical Society for Sports Medicine, beberapa obat dilarang, baik di dalam maupun di luar kompetisi, karena sifatnya yang meningkatkan kinerja, sementara yang lain hanya dilarang selama kompetisi. Secara umum, jenis obat yang dilarang adalah narkotik jalanan, stimulan, steroid anabolik, hormon peptida (hormon pertumbuhan manusia), alkohol dan beta blocker (hanya untuk pemanah dan penembak dengan senapan), diuretik, agonis beta-2, anti-estrogen, doping darah, dan manipulasi gen.

Doping dilakukan atlet untuk meningkatkan massa otot, mengurangi waktu pemulihan, meningkatkan energi atau daya tahan, dan yang menutupi keberadaan obat lain. Ketatnya aturan doping di dunia olahraga dibuat untuk melindungi keselamatan dan masa depan sang atet. Berbagai sanksi dapat dijatuhkan kepada atlet yang terbukti melanggar Kode Anti-Doping, mulai dari pelucutan medali Olimpiade atau gelar olahraga hingga larangan bermain seumur hidup. [*]

Beberapa Jenis Doping

Steroid Anabolik

Steroid anabolik biasanya merupakan turunan sintetis dari testosteron. Tujuan penggunaannya dalam doping adalah untuk meningkatkan massa otot dan berat badan tanpa lemak. Obat-obatan ini dapat dikonsumsi secara oral atau injeksi. Namun, banyak efek kesehatan yang merugikan karena penggunaannya. Efek yang relatif kecil adalah infeksi kulit, jerawat, gynecomastia reversible (perkembangan jaringan payudara pria), dan penyusutan testis. Efek parah dan berpotensi mengancam jiwa adalah psikosis, pendarahan di sekitar hati, peningkatan risiko serangan jantung, dan kematian mendadak.

Stimulan

Obat perangsang atau stimulan beragam dan bila digunakan untuk tujuan doping memiliki maksud untuk meningkatkan stamina seorang atlet, mengurangi sensasi kelelahan dan nyeri, serta meningkatkan fungsi mental dan perilaku mereka. Ada banyak jenisnya yang terkenal di dunia, seperti kokain, amfetamin, dan efedrin. Amfetamin pada awalnya digunakan atlet karena mengurangi sensasi rasa sakit dan kelelahan. Namun, efeknya kadang-kadang mengancam jiwa. Amfetamin telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kejang, serangan jantung, dan kematian mendadak sehingga dilarang untuk digunakan dalam olahraga dan maupun penggunaan pribadi. Obat stimulan adalah obat terlarang kelas terbesar kedua pada Kode Anti-Doping WADA dan diuji secara rutin pada atlet elite.

Hormon

Sistem endokrin adalah sistem dalam tubuh manusia yang memproduksi dan mengatur hormon, yang berperan dalam perkembangan dan pertumbuhan otot. Beberapa hormon berfungsi untuk meningkatkan produksi protein sehingga terlibat dalam peningkatan massa otot. Hormon seperti insulin dan hormon pertumbuhan manusia (hGH) telah digunakan oleh atlet untuk meningkatkan massa otot. Namun, penggunaannya juga memiliki efek kesehatan yang parah, seperti gula darah rendah, kelebihan cairan, pembengkakan anggota badan, pertumbuhan tulang yang berlebihan, dan serangan jantung.

Doping Darah

Oksigen adalah salah satu nutrisi dasar untuk semua sel. Peningkatan pengiriman oksigen ke jaringan dapat meningkatkan daya tahan dan kinerja orang. Atlet telah berusaha untuk mencapai tujuan ini dengan “doping darah”. Darah atlet diambil beberapa bulan sebelum kompetisi dan ditransfusikan kembali ke atlet yang sama sesaat sebelum kompetisi untuk meningkatkan volume darah dan jumlah oksigen dalam darah. Cara lain dengan menggunakan obat-obatan tertentu, seperti erythropoietin, yang meningkatkan produksi sel darah merah tubuh, pembawa oksigen ke sel. Namun, tubuh cukup sensitif terhadap perubahan tersebut dan ketika volume darah meningkat, darah akan mengental, meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, stroke, serangan jantung, dan kematian mendadak.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button