Media UtamaOktober 2021

Menjaga Ketangguhan Mental Tenaga Kesehatan

Tenaga kesehatan termasuk kelompok yang rentan terkena gangguan mental di masa pandemi. Gangguan itu dapat memengaruhi diri mereka, keluarga, hingga kualitas layanan kesehatan.

Pandemi COVID-19 merupakan hal yang baru dan belum pernah terjadi. Hampir dua tahun kita menghadapi situasi bencana nonalam tersebut. Saat menghadapi sebuah situasi ancaman atau kedaruratan yang baru, respons otomatis kita yang muncul biasanya adalah kecemasan atau ketakutan, terlebih saat kita belum memahami bagaimana cara menanggulanginya.

Di masa ini, tenaga kesehatan berperan penting sebagai garda terdepan dalam penanganan pandemi COVID-19. Mereka harus berurusan langsung dalam penanganan pasien COVID-19 dan menyaksikan pula banyak rekan kerja sejawat mereka yang terpapar dan bahkan meninggal saat bertugas. Kondisi ini mendekatkan para tenaga kesehatan pada risiko gangguan kesehatan mental.

Direktur Pencegahan Penyakit dan Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA Kementerian Kesehatan, dr. Celestinus Eigya Munthe, Sp.K.J., M.Kes., menyebutkan bahwa munculnya rantai kecemasan harus dihadapi para tenaga kesehatan di masa pandemi. Rantai ini berupa pengetahuan mereka akan sebuah ancaman besar, potensi keterpaparan tinggi, dan situasi yang mewajibkan mereka harus terus menjalani tugasnya.

“Mereka bekerja overtime di situasi yang sangat melelahkan, menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap selama delapan jam penuh, dan tidak bisa menolak, terutama saat banyak sekali pasien yang butuh ditangani. Hal ini bisa membuat stres dan frustrasi yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya penurunan kemampuan kerja, misalnya kelalaian dalam mengikuti prosedur standar yang semestinya dijalani secara ketat tetapi, karena sudah terlalu lelah fisik dan mentalnya, mereka menjadi kurang waspada. Itu juga yang kami duga menjadi salah satu faktor tenaga kesehatan banyak terpapar COVID-19,” ujar Munthe.

Gangguan pada kesehatan mental para tenaga kesehatan dapat memengaruhi banyak hal, mulai dari cara pandang mereka terhadap diri mereka sendiri, relasi dengan keluarga atau sesama teman kerja, dan bahkan lebih jauh lagi dikhawatirkan dapat berujung pada turunnya kinerja dan produktivitas mereka . Hal ini bisa saja berdampak pada kualitas layanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat.

“Ketika muncul gangguan pada mental emosional, konsentrasi kita terganggu, kewaspadaan kita terganggu, dan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan bahkan kepada orang lain pun bisa terlupakan. Selain membahayakan bagi dirinya sendiri, gangguan berat itu bisa juga membahayakan orang lain, terlebih yang mengalami adalah tenaga kesehatan yang berinteraksi langsung dalam memberikan pelayanan. Ini harus kita cegah karena kerugiannya akan sangat besar bila hal itu sampai terjadi,” kata Munthe.

Dalam situasi pandemi COVID-19, semua tenaga kesehatan memiliki peran yang sama-sama besar dalam porsi dan kompetensi masing-masing. Semuanya berpotensi terkena imbasnya. Karena itu, semua tenaga kesehatan memiliki kerentanan dan kemungkinan yang sama untuk mengalami gangguan mental emosional dan perlu dibantu agar mereka bisa mempertahankan ketangguhan mentalnya.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button