Media UtamaOktober 2021

Saat Pandemi Mengganggu Jiwa

Infodemi, pembatasan sosial, dan berbagai kondisi pandemi dapat memicu gangguan jiwa. Bagaimana menghadapinya dengan baik?

Psikiater dan Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, Bogor, dr. Lahargo Kembaren, Sp.K.J., mengatakan, setiap orang memiliki risiko yang sama untuk terkena masalah atau gangguan jiwa akibat pandemi COVID-19. Bahkan, pada mereka yang sudah mengalami gangguan jiwa, angka kekambuhan juga bisa meningkat. “Yang tadinya sudah stabil, sehat, sudah nggak minum obat, misalnya, dengan adanya pandemi ini jadi kambuh lagi,” katanya kepada Mediakom pada 27 Oktober 2021.

Menurut pria yang kerap disapa Argo ini, ada empat aspek bagaimana pandemi dapat menjadi suatu stresor psikososial. Aspek pertama adalah pandemi itu sendiri. Di masa pandemi, masyarakat dihadapkan pada fenomena angka kesakitan, angka kematian, sulitnya mencari rumah sakit serta mencari obat dan oksigen. Apalagi bagi tenaga kesehatan, yang secara terus-menerus harus melayani pasien-pasien penderita COVID-19.

Aspek kedua adalah infodemi, yakni informasi yang berlimpah dan menyebar secara cepat walaupun tidak jelas akurasi dan ketepatannya. Fenomena ini biasanya muncul pada situasi-situasi yang penuh ketidakpastian seperti di masa pandemi. Informasi yang diperoleh seseorang akan diproses oleh otak bagian depan yang disebut prefrontal cortex (PFC). Jika informasi itu membahayakan, mengancam, menakutkan, atau tidak mengenakkan, PFC akan mengirim sinyal ke bagian otak tengah yang disebut amigdala, yang merupakan pusat emosi.

“Kalau pusat emosi sudah terpicu, dia akan menghasilkan hormon stres yang namanya kortisol. Hormon stres itu, kalau didistribusikan ke organ tubuh akan membikin sensasi yang tidak menyenangkan, seperti jantung jadi berdetak lebih kencang, asam lambung naik, muncul GERD (gastroesophageal reflux disease), mual, muntah, diare, kepala terasa berat atau tidak nyaman, kemudian otot-otot menjadi tegang sehingga gelisah, kesemutan, kulit kemerahan dan gatal,” kata Argo.

Meski mengalami gejala-gejala tersebut, kata Argo, pemeriksaan fisik penunjang dan laboratorium akan menunjukkan hasil yang normal. Reaksi ini biasanya disebut dengan psikosomatik. Hal tersebut bisa terjadi karena otak terlalu banyak menerima informasi-informasi negatif seperti infodemi.

Aspek ketiga adalah adanya pembatasan-pembatasan,  seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Pembatasan-pembatasan tersebut membuat masyarakat hanya dapat beraktivitas di rumah. Anak-anak harus mengikuti pembelajaran jarak jauh, orang dewasa harus bekerja dari rumah, dan orang tua diimbau untuk tidak berkunjung ke rumah sanak saudara mereka untuk menghindari penularan COVID-19. Akibatnya, “Kita nggak bisa bertemu dengan orang-orang yang bisa kita jumpai sehari-hari. Hal ini memberikan suatu trauma psikologis. Ternyata tidak gampang kita bisa menghadapi pembatasan itu,” ungkap Argo.

Aspek keempat adalah adaptasi. Setiap orang memiliki kemampuan beradaptasi yang berbeda-beda. “Ada orang yang mudah beradaptasi dengan situasi dan keadaan ini (pandemi), tetapi ada juga yang memang butuh usaha lebih besar, yang akhirnya jatuh pada keadaan stres dan itulah yang bisa berujung kepada masalah dan kemudian gangguan jiwa,” ujar Argo.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button